Menempatkan Malu yang Tepat (2)

Jum’at Berkah

Misi Rasulullah diutus oleh Allah, adalah menyempurnakan akhlak. Negeri yang berperadaban tinggi, terkandung akhlak yang mulia. Untuk mewujudkannya, mari kita urai bagaimana malu menjadi bagian dari akhlak.

Pertama: Malu kepada Allah, karena takut. Orang tersebut merasa diawasi dan diamati oleh-Nya. Beruntung sekali, dalam waktu seminggu sekali, sebagai seorang muslim diingatkan oleh khatib dalam khotbahnya. Beliau selalu mengatakan marilah kita selalu meningkatkan iman dan taqwa, yaitu melaksanakan yang diperintah dan meninggalkan yang dilarang oleh Allah. Apabila kita melakukan sebaliknya, mestinya merasa malu.

Kedua, malu kepada malaikat. Yaitu ketika seorang mukmin merasa bahwa para malaikat itu bersama dirinya, menyertainya di setiap waktu dan tidak berpisah dari dirinya kecuali ketika sedang buang air besar atau saat sedang berhubungan badan dengan istrinya.

Ketiga, malu kepada manusia. Sebagai manusia tentu memiliki martabat dan harga diri. Orang mukmin akan merasa malu bila menyakiti orang lain, baik secara fisik maupun psikis. Orang mukmin akan selalu menjaga lisan. Menghindari berkata kotor. Ia justru akan menutup aib orang lain dan mampu meredam informasi yang berpotensi menimbulkan konflik. Itulah akhlak yang mesti kita pelihara secara bersama-sama.

Islam memandang rendah kepada orang yang, Pertama malu menuntut ilmu. Bukankah ayat yang pertama kali turun adalah “bacalah”. Maknanya, orang yang mendapatkan pengetahuan, meskipun sebesar zarrah (atom) akan ditinggikan harga dirinya. Di pihak lain, apabila ada orang yang memiliki potensi untuk meningkatkan kompetensinya, tetapi tidak melaksanakan, dipandang oleh Allah bahwa manusia tersebut harusnya malu.

Kedua, malu melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Menjadi kewajiban bagi setiap muslim untuk melakukan kebaikan dan mencegah kejelekan. Untuk melaksanakan kebaikan, sudah banyak yang mempraktekkan. Namun untuk mencegah perbuatan dhalim, tidak setiap orang mampu melakukan. Perlu iman dan ilmu yang kuat untuk menjalankannya.

Ketiga, malu yang menyebabkan seseorang melanggar syariat. Malu yang mendorong seseorang untuk melanggar larangan syariat atau meninggalkan kewajiban yang diperintahkan dalam agama ini bukanlah rasa malu yang hakiki. Ini hanyalah kelemahan dan kehinaan. Sama sekali bukan termasuk malu bila seseorang meninggalkan shalat wajib karena adanya tamu yang datang hingga waktu shalat berlalu. (bersambung)