Menempatkan Malu yang Tepat (3)

Jum’at Berkah

Sesungguhnya sifat malu dan iman bersatu dalam satu ikatan. Apabila hilang salah satu dari keduanya maka akan sirna pula yang satunya.

(HR Bukhari dan Muslim)

Sikap seseorang sudah melekat dalam hatinya. Karena hati sebenarnya dituntun oleh kebiasaan perilaku seseorang. Bila ada orang melakukan kebaikan, itu pertanda bahwa kebiasaan yang terpancar dari hati nurani. Kalau seseorang melakukan perbuatan aniaya, maka sesungguhnya itu tercermin rasa nafsu yang mendominasi.

Sifat malu yang melekat dari seseorang, terhubung dengan sifat-sifat orang tersebut. Sifat malu merupakan sesuatu yang mulia, karena tidak ada seorang Nabi pun yang di utus oleh Allah, kecuali dia pasti mendorong umatnya agar berakhlak dengan sifat malu. Perbuatan mulia dengan malu memiliki korelasi yang erat. Keduanya sulit untuk diputus. Orang yang berakhlak mulia, dia memiliki rasa malu.

Sifat malu akan mencegah seseorang untuk melakukan perbuatan yang dhalim. Yaitu perilaku yang sia-sia. Tidak memiliki faedah, sebaliknya akan menimbulkan kemubaziran. Menghambur-hamburkan tenaga, pikiran dan biaya tanpa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.

Umat bin Al Khattab pernah mengatakan. Siapa saja yang sedikit rasa malunya maka akan sedikit pula wara’-nya (sikap hati-hati terhadap yang haram). Dan siapa saja yang sedikit wara’nya maka matilah hatinya.”. Berperilaku hati-hati bukanlah perbuatan yang lambat, membuang waktu, tidak sabar. Berhati-hati dalam melakukan segala sesuatu adalah sikap yang baik. Waspada dalam meniti hidup saat ini, sangat disarankan. Karena kehidupan sekarang telah dicemarkan oleh bungkus. Orang mungkin hanya terpesona dengan bungkusnya saja.

Bagaimana mengatasi atau mempertahankan malu. Mempertahankan iman agar tetap stabil, bila perlu ada progress kenaikan. Sebab iman dan malu adalah sepasang, tidak dapat diceraikan. Risalah kenabian sejak nabi Adam adalah menaburkan rasa malu, terutama ketauhidan.

Kedua, bercermin pada nilai-nilai yang telah diwariskan oleh para pendahulu dalam menata kehidupan bermasyarakat. Rasa malu yang tumbuh warganya ditanam karena satu dengan yang lain saling membutuhkan. Simpul-simpul inilah yang menjadikan masyarakat kuat rasa persatuannya.

Seseorang akan malu bila tidak bertetangga. Orang akan malu bila tidak mengikuti kerja bakti. Kalau bukan karena akhlak malu, maka tamu tidak akan dihormati, janji tidak akan ditepati, amanah tidak akan dilaksanakan dan kebutuhan orang tidak akan dipenuhi.