Mengajarjan TIK

Berulang kali, ketika aku harus mendampingi anak dalam mengerjakan pekerjaan rumah mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) selalu kesulitan menjelaskan. Karena buku lembar siswa (LKS) terbuat dari kertas buram. Warna cetakan hitam putih. Gambarnya tidak jelas. Aku prediksikan, bahwa gambar yang tertera di LKS terambil dari copy-paste di layar monitor yang kebetulan full color. Sehingga tidak bisa membedakan antara warna biru, merah, coklat dengan warna hitam. ukuran gambar kecil pula.

Harus diakui bahwa sekolah di desa memang belum selengkap dengan sekolah yang ada di perkotaan. Setidaknya di pinggiran kota. Sehingga fasilitas masih terbatas. Apalagi menyangkut sarana (perangkat TIK) yang langsung berhubungan dengan user, dalam hal ini siswa. Kendala sarana atau alat pembelajaran ini secara langsung juga mengganggu terhadap proses pembelajaran. Transfer ilmu jadi terhambat. Karena mata pelajaran terkait langsung dengan praktik.

Beruntunglah siswa yang di rumah telah memiliki seperangkat komputer, paling tidak anak sudah pernah melihat dan mempraktekkan perintah dalam program komputer. Tapi keberuntungan ini bisa dihitung dengan jari. Berapa perbandingan antara siswa yang telah tersedia perangkat komputer dengan yang belum memiliki. Penulis yakin tidak sampai 40 %.

Perangkat komputerpun belum tentu bisa menyelesaikan pekerjaan rumah  yang dikerjakan anak. Beberapa gambar tool yang tertera di LKS belum tentu sama dengan komputer yang dimiliki anak. Bisa jadi gambar tool terambil dari windows xp. Sementara komputer telah menggunakan windows 8 atau lebih atas lagi. Perintahnya berlainan. Bisa pula pertanyaan terambil dari microsoft 2007, sementara komputer tersedia microsoft 2010 atau yang lebih tinggi. Ingat! anak hanya mampu menterjemahkan apa yang dilihat dalam layar monitor.

Lebih parah lagi, bila anak telah terbiasa memakai tablet yang nota benenya berbasis android. Program utamanya jelas lain. Program pendukung yang terambil dari apps juga berbeda, meskipun sama-sama digunakan untuk menulis dokumen. Apalagi kalau anak menggunakan machintosh. Wah, semakin runyam.

Lalu baiknya bagaimana mengajarkan TIK pada anak.

Pertama praktek langsung dengan alat yang dimiliki. Idealnya sekolah memiliki seperangkat alat TIK sesuai dengan kebutuhan anak. Program dibuat sama, sehingga memudahkan pengajar untuk melakukan transfer ilmu. Toh, kompetensinya resmi seperti yang tertera dalam kurikulum. Bagaimanapun juga sekolah sebagai lembaga pendidikan harus tetap berusaha untuk pengadaan seperangkat alat untuk pelajaran TIK.

Guru TIK memang harus selalu up date terhadap perkembangan teknologi. Tidak hanya windows , mikrotik atau machintosh, tetapi android juga harus dipelajari. Manakala ada seorang siswa menemui kesulitas pada aplikasi tertentu, ia kan mahir menyelesaikan. Bukan hanya guru TIK saja untuk memanggul tanggung jawab ini. Semua gurupun harus memiliki amanah bahwa menguasai teknologi merupakan kewajiban.