Mengawali dengan Khamdalah (1)

Jum’at Berkah

Sebagaimana layaknya, mengawali sebuah pekerjaan biasanya dengan membaca “basmalah”. Namun bila Allah berkehendak, semua dapat terjadi. Contohnya, ada lima surat dalam al Qur’an yang dimulai dengan “khamdalah”, yaitu: al Fatihah, al Kahfi, al An’am, Saba’ dan Fathir.

Awalan kelima surat tersebut memuji Allah atas nikmat yang telah diberikan kepada manusia. Kenikmatan tersebut dapat berupa pemberian al Qur’an sebagai petunjuk, anugerah yang diberikan di langit dan bumi melalui gelap dan terang, kelezatan di akhirat sebagai ganti lulus ujian di bumi, serta kenikmatan kehidupan di akhirat kelak.

Bey Arifin dalam bukunya “Samodra al Fatihah” mengandaikan, bila dalam waktu 5 detik saja melafalkan “alhamdulillahi robbil ‘alamin”, kita dapat menghadirkan ingatan dan dapat membayangkan seluruh alam semesta, pasti akan menimbulkan dan membangkitkan serta menumbuhkan perasaan yang indah. Penuh dengan pujaan, pujian, syukur, terima kasih, dan khidmat terhadap Allah.

Perasaan yang indah ini sesuai dengan sabda Rasul bahwa ucapan “alhamdulilah” itu lebih berharga dari seluruh harta dan kekayaan dunia. Sanjungan dan pujian terhadap Allah akan memberikan rasa nikmat yang lebih tinggi dari nikmat berupa harta.

Kata al-hamd terdiri dari huruf alif dan lam bersama dengan hamd. Rangkaian ketiga kata tersebut berarti “segala puji bagi Allah”. Ucapan tersebut ditujukan kepada yang dipuji atas sikap dan perbuatan yang baik. Kalimat tersebut mengandung tiga unsur yaitu: indah (baik), dilakukan secara sadar dan tidak terpaksa atau dipaksa.

Dengan mengucap alhamdulillah, berarti si pengucap menyadari bahwa segala sesuatu yang bersumber dari Allah adalah terpuji. Membaca alhamdulillah berarti hatinya terasa tenang, selalu bersyukur. Maka kita dituntun untuk selalu mengucapkannya setiap saat sebagai ujud rasa terima kasih selalu bersama-Nya.

Meskipun kelima surat tersebut diawali dengan kata yang sama, yaitu alhamdulillah, namun kandungannya berbeda-beda. Karena asbabun nuzulnya berbeda, waktu disampaikan kepada Rasulpun berbeda. Sifat diwahyukan secara berangsur-angsur turut membedakan maksud dan kandungannya. (bersambung)

Referensi: Tafsir al Misbah karya Prof. DR. Quraish Shihab