Mengawali dengan Khamdalah (2)

Jum’at Berkah

Awal surat al An’am memberi petunjuk kepada manusia bahwa segala pujian hanyalah bagi Allah, pencipta langit, bumi dan segala isinya. Hal ini menunjukkan bahwa manusia harus belajar (berfikir) tentang tanda-tanda kesempurnaan Allah. Pelajaran yang dapat dipetik adalah, bahwa manusia harus senantiasa memperbaiki diri dari segi keimanan dan amal shalih.

Terpuji itu, misalnya menjadikan gelap sehingga manusia dapat beristirahat, dan terang benderang supaya mereka dapat mencari rezeki. Sebaliknya, Allah juga menunjukkan bagaimana sikap orang-orang yang berpaling dari perintah-Nya. Mereka menutupi kebenaran, mengingkari keesaan Allah, serta tidak mensyukuri nikmat-Nya. Beberapa ulama menjelaskan kata al-hamdu, sebagai pujian. Ayat ini ditujukan kepada orang yang berakal maupun tidak berakal, benda hidup maupun mati.

Dalam surat al Kahfi, segala pujian hanya tertuju bagi Allah yang telah menurunkan Nabi Muhammad dan al Qur’an. Rasulullah yang menterjemahkan dengan praktek nyata, atas perintah dan larangan Allah. Rasulullah pula yang memberikan suri tauladan dalam berkehidupan. Sedangkan al Qur’an merupakan mukjizat. Kitab suci tersebut sebagai petunjuk.

Surat Saba’, ayat pertama mengisyaratkan nikmat-nikmat Allah di akhirat kelak. Yaitu, kehidupan baru, di mana manusia yang taat akan memperoleh kenimatan abadi. Bahkan, al-Baqi’ berpendapat bahwa penghuni neraka pun memuji-Nya.

Ujung ayat pertama ditutup dengan sifat Allah yaitu al Hakim dan al Khabir, yang artinya Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui secara detail. Hikmah-Nya, Allah menciptakan kehidupan di dunia dan akhirat sesuai dengan sistemnya. Seandainya tidak ada akhirat, maka kehidupan di dunia ini tidak ada artinya, sia-sia. Sedangkan Khabir adalah untuk menjawab kaum musyrikin yang mengatakan bahwa tidak ada kehidupan sesudah di dunia.

Surat Fathir, awal surat kata alhamdulillah diikuti kata fathir yang artinya membelah. Dari kata itu, maka lahirlah makna seperti “menciptakan pertama kali”. Dalam hal ini menciptakan langit dan bumi.

Kata mala’ikah berarti makhluk Allah, yang bertugas sebagai utusan Allah, dengan berbagai fungsinya. Dia pula yang menciptakan berbagai macam malaikat yang mempunyai sayap. Masing-masing ada yang bersayap dua, tiga, empat, ataupun lebih dari empat. Semua itu kehendak Allah. Tiada yang mampu menghalangi atas kehendak-Nya.

Referensi: Tafsir al Misbah karya Prof. DR. Quraish Shihab