Mengejar Pendidikan Berkualitas

Setiap jarum jam panjang bertatapan dengan angka lima belas, dan jarum jam pendek mulai meninggalkan angka lima di pagi hari, saya sudah harus segera bergegas menuju stasiun Klaten. Menunggu kedatangan Kereta Rel Listrik (KRL) yang datang dari Solo. Kereta jam pertama perlahan mendekati stasiun pemberhentian. Para penumpang dengan tertib dan sabar menunggu pintu otomatis terbuka. Saya dan penumpang lain segera masuk gerbong yang cukup dingin. Biasanya kami saling berebut tempat duduk yang masih kosong.

Tepat pukul 05.40, KRL dengan tenaga yang masih fresh, jalan dengan tujuan  stasiun Srowot. Salah satu dari rombongan tersebut, setiap hari saya melihat ada dua siswa yang akan menuju Yogyakarta. Tepatnya turun di stasiun Lempuyangan. Keduanya masih SMP. Kalau pagi, diantar oleh orangtuanya menuju stasiun Klaten. Dari sini, mereka dilepas mendatangi  Yogyakarta untuk sekolah.

Di gerbong, ternyata sudah ada siswa lain dengan tujuan yang sama, yaitu sekolah di Yogyakarta. Saya perkirakan, anak tersebut setidaknya naik dari Delanggu. Berarti, anak tersebut sudah harus berangkat dari rumah pukul 05.00. Berlangsung setiap hari. Mereka terlihat senang menikmati perjalanannya. Apakah pesonanya sekolah di Kota Yogyakarta?

Sampai sekarang, masyarakat menilai bahwa Kota Yogyakarta itu paling relevan untuk pendidikan. Orang tak akan berpaling dengan daerah lain, karena kualitasnya dapat dipertanggungjawabkan. Baik dari segi akademik maupun non akademik.

Yogyakarta sebagai sebagai kota pendidikan, memang agak sedikit ribet bila terkait dunia akademik. Setiap tahun selalu memperbaharui sistem penerimaan siswa baru. Tujuannya tak lain agar masukan siswa baru lebih berkualitas. Setiap tahun pula, selalu meningkatkan kualitas akademik, agar mampu menghasilkan lulusan yang terbaik.

Yogyakarta sebagai kota budaya, selalu memberi ruang kepada masyarakat, terutama dunia pendidikan agar berkarya. Semangat menciptakan dunia seni digelar tidak tidak terjadi pikiran cognitif belaka. Keseimbangan antara pikir dan karya akan diperhatikan. Kota budaya juga mengandung nilai-nilai sejarah, dan diharapkan mampu memberi inspirasi bagi generasi muda. Tidak heran, bila ada siswa yang domisilinya jauh, tapi tetap semangat menimba ilmu di Yogyakarta.