Mengembalikan Kebiasaan Membaca

Kebiasaan membaca buku, tidak perlu dengan usaha yang frontal. Tidak membutuhkan daya seperti orang berlari cepat atau sprint. Seketika sampai finish. Cukuplah seperti pelari marathon. Tidak diperlukan lari kencang, tapi tetap sampai penghujung. Diperlukan ketahanan fisik yang prima untuk menggapai tujuan. Sedikit demi sedikit, namun konsisten. Ibarat menabung, setiap kali memasukkan rupiah tidak dalam jumlah yang banyak, tetapi terus menerus.

Ketika belum ada hand phone atau gawai seperti sekarang ini, saya terbiasa membaca sedikitnya dua jam tiap malam. Waktu yang tepat untuk menambah wawasan, menurut saya. Dikesepian malam yang semakin senyap, dan ditemani oleh musik-musik ringan, bait demi bait, lembar demi lembar kutempelkan dalam memori. Buku-buku bacaan yang saya sadap, seperti jurnal atau buku-buku sosial, ekonomi, filsafat dan juga budaya.

Bergulirnya waktu, ternyata kemajuan Teknologi Informasi semakin mencengangkan. Menjamurnya warung telekomunikasi (wartel) bak cendawan tumbuh di musim hujan. Disetiap sudut simpang jalan hampir selalu ada wartel. Hubungan masyarakat semakin dekat. Pekerjaan jadi semakin ringan. Warnet tidak hanya sebagai alat komunikasi, namun dapat juga sebagai pelipur kangen.

Setelah warnet menjadi sahabat yang karib, muncul teknologi baru, yang lebih personal. Alatnya dapat dibawa kesana-kemari. Itulah benda mungil yang disebut hand phone. Setiap orang yang memilikinya dapat berkomunikasi dari manapun, kapanpun, dan dimanapun. Hand phone menjadi kekasih baru yang tak terpisahkan. Apalagi disediakan fasilitas Short Massage Service (SMS). Lebih murah dan praktis. Hand phone ini kini menjelma menjadi gawai yang lebih cerdas. Lebih berdaya guna.

Dibalik kecanggihan gadget, terselip sebuah misi untuk membuat orang malas. Dengan scroll ke atas dan ke bawah, yang sebenarnya tidak perlu untuk diketahui, telah menyisihkan kegiatan untuk peningkatan kompetensi diri. Salah satunya adalah membaca buku yang bermutu. Memang benar, gadget telah menyediakan bacaan yang bermutu pula. Tapi seberapa lama mata dapat melihat tulisan di gadget. Buku masih dapat menemani mata untuk berlama-lama membaca.

Untuk dapat mengembalikan kebiasaan membaca seperti sedia kala, ternyata lebih sulit dari pada awal membudayakan membaca. Ketergantungan terhadap gadget demikian mandarah daging. Godaan hiburan memang semakin menambah beban. Namun demikian, kita coba untuk mengingat kembali membangun kebiasaan membaca buku waktu dulu. Prinsip marathon masih relevan untuk dipakai lagi. Sedikit demi sedikit. Kurangi kebiasaan ngobrol di beberapa grup whatsapp atau aplikasi lain. Ketergantungan dengan orang lain mulai dikikis pelan-pelan. Karena yang menjadi aktor atau aktris utama adalah diri kita sendiri.