Menghadirkan Rasulullah ditengah Keluarga

Jum’at Berkah

Setiap kita mendengarkan khutbah jum’at, pasti ada kata Shalawat. Seorang khatib akan mengatakan “shalawat dan salam, semoga terlimpahkan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad, saw”. begitu besarnya peran Rasulullah dalam menata kehidupan di dunia ini. Begitu tingginya akhlak Rasulullah, dalam menuntun pribadi setiap muslim ataupun measyarakat. Sehingga asmanya selalu disebut oleh umatnya.

Sungguh sangat beruntung bagi umat yang hidup bersama Rasulullah maupun sesudahnya. Nikmat yang kita rasakan adalah bahwa Rasulullah menjadi manusia pilihan Allah. Salah satu keistimewaan yang diberikan Rasulullah adalah, Allah tidak akan memberi adzab kepada umat Rasulullah, selagi beliau berada di lingkungannya. Sungguh, perilaku spesial yang tidak diberikan kepada umat sebelum Rasulullah.

Beberapa ahli tafsir menggambarkan, bila menghadirkan Rasulullah dalam kehidupan kita, maka Allah tidak akan menurunkan adzab-Nya kepada kita. Ibnu Katsir menafsirkan lebih luas lagi. Allah tidak akan menurunkan Adzab-Nya kepada satu kaum (bangsa, masyarakat, komunitas), sedangkan nabi-nabi mereka berada di antara mereka, hingga Allah mengeluarkan nabi-nabi itu dari kalangan mereka. Ada banyak contoh kisah nabi yang berhasil keluar dari murka Allah, setelah nabi itu diperintahkan keluar dari tempatnya.

Karena kita berjarak selama lima belas abad dengan nabi terakhir, maka upaya yang mesli kita lakukan adalah : Istiqomah menghidupkan sunnah-sunnahnya. “Barang siapa menghidupkan sunnahku, maka ia benar-benar menghidupkan aku, dan barang siapa menghidupkan aku, maka is bersamuku di surga”. (HR at Tirmidzi). Secara maknawi, Rasulullah tergambar sebagai teladan dalam segala bentuk dan gerak aktivitas keseharian kita.

Memperbanyak salam dan penghormatan kepada beliau. Membaca shalawat memang sudah terkandung dalam sholat fardlu, ataupun sholat sunah lainnya. Semakin banyak melaksanakan sholat, maka semakin banyak salam penghormatan kepada beliau. Demikian pula dalam aktivitas yang lain, yang terkait dengan kerinduan kepada beliau. Semakin sering mengucapkan shalawat, baik yang diucapkan dengan berbunyi lantang atau cukup diucapkan dalam hati, maka semakin besar beliau, dan semakin besar kita mendapatkan syafaatnya.