Menghujamkan Pondasi yang Kokoh

Bumi itu berputar, itu adalah peristiwa alam. Kehidupan itu berputar, adalah kiasan, bahwa kehidupan acap kali menempati di suatu posisi. Terkadang di puncak kejayaan karena kekayaan, kemuliaan, keilmuan, atau ketrampilannya. Mempertahankan saat di titik maksimum merupakan usaha yang maha berat.

Ambillah perjalanan sebuah keluarga. Mulanya hanya anak seorang biasa. Katakanlah dari keluarga petani kecil. Karena anak tersebut mampu melakukan pekerjaan dengan penuh kesungguhan dan diiringi dengan doa yang tulus, maka di saat tertentu menjadi orang yang terpandang. Jadilah sebuah keluarga harmoni. Namun berapa banyak keluarga yang demikian itu dapat dipertahankan sampai beberapa keturunan.

Sebuah perusahaan sebangun dengan keberadaan keluarga. Beberapa tahun lalu, SONY, Panasonic adalah icon dalam industri elektronika, yang mampu memanjakan kebutuhan rumah tangga. Bahkan, hasil produknya mampu mengangkat derajat rumah tangga. Ruangan keluarga akan hampa bila belum ada televisi buatan SONY. Anda akan tetap merasa Lelah, bila belum ada mesin cuci merk Panasonic.

Alat bantu dalam mengais pekerjaan juga keluaran produk mereka. Telephon, Faximile, pengeras suara dan lain-lain. Apakah hasil cipta mereka langgeng? Semua tergilas zaman. Sang pengibar bendera adalah yang mampu menjawab kebutuhan kekinian, bahkan dimasa depan. Mengapa ada yang terpuruk dan tenggelam, ada yang menjadi pengekor, atau mampu berlari dengan pendatang baru yang fress?

Visionary CEO. Kebangkitan sebuah perusahaan skala dunia hampir selalu dipicu oleh founder and CEO yang visioner. Apple pernah punya Steve Jobs. Microsoft pernah punya Bill Gates. Sony 19 dulu punya sang legenda Akio Morita. Panasonic memiliki pendiri hebat bernama Konosuke Matsushita. Sebaliknya, merosotnya sebuah perusahaan juga lazim dimulai dengan sosok CEO yang abal-abal. Pembusukan ikan selalu berawal dari kepala. Akankah Microsoft juga akan limbung?

Kesombongan juga menjadi pemicu tergelincirnya sebuah institusi. Memang kalau sudah duduk di atas, lupa untuk melihat ke bawah. Mereka menganggap tak ada lawan, karena yang dilihat Cuma depan, kanan dan kiri. Tak mau menoleh ke belakang.

Penyakit yang dapat menyerang siapa saja. Baik pribadi maupun kelompok. Lama mengenyam kenikmatan menjadi leader ternyata telah mengidam penyakit sindrom arogansi. Insting telah bebal. Mata menjadi rabun terhadap perubahan. Benarlah kata Andy Groove, pendiri Intel yang pernah bilang: Only paranoid will survive. Lengah sedikit, mati.

Untuk menjadi kreatif memang dibutuhkan segala daya dan upaya, termasuk sistim coba-coba. Ini sebuah konsep radikal yang berbunyi seperti ini: bunuhlah produk Anda sendiri, sebelum kompetitor menyeretnya ke lubang kuburan. Kodak terlambat membunuh produk kamera mereka, dan akhirnya mati. Produsen disket gagal membunuh produk mereka, dan kini lenyap. Nokia telat 21 membunuh symbian, dan kini mereka menutup perusahaannya. Pesannya lugas: Anda tidak boleh terlalu jatuh cinta dengan produk Anda sendiri. Suatu saat Anda harus tega menguburnya, dan lalu segera pindah membangun produk baru yang mungkin sama sekali berbeda.

Terinspirasi dari tulisan Innovation War tulisan dari Yudhia Antariksa