Menikahlah Engkau Kesayanganku

oleh : Joni Ariadinata

Anak gadisku datang membawa lelaki.
Ia tiba riang segesit kelinci,
matanya jernih bulat seperti kuingat,
dan lentik bulu matanya
kilau kembang jambu.

Dulu pipimu kucium-cium.
Tangan mungil kesayangan, menggapai-gapai ayah-ibumu yang kegirangan. Kulabuhkan seribu pujian pada tawamu merdu.
Wajahmu, matamu, hidungmu, mulutmu,
tanganmu, kakimu. Aduhai.
Tuhan menurunkan bayi ke dunia
begitu indah.

Sejak itu,
bunga-bunga bermekaran tiap waktu
di dadaku.

Kini kau membawakanku seorang lelaki muda.
Berdiri teguh di depanku,
di depan lelaki tua yang kesepian.

“Ayah, izinkan aku untuk menikah. Aku akan pergi dari rumah,
bersama lelaki yang kucinta.
Sekarang katakan Ayah,
bagaimana aku bisa membalas semua kebaikanmu di dunia?”

Aku tersenyum pada senja yang mulai tenggelam. Aku hirup
udara renta, membayangkan malam segera tiba. Di luar jendela umur dunia akan binasa. Di balik pintu sana, angin selalu mengetuk usia.

Lalu daun-daun kuning.
Lalu guguran ranting pohon luruh di halaman.
Lalu bunga berganti musim.

Kemudian butiran pasir dan kerikil
yang selalu mendengar nyanyian kecil ketika aku menidurkanmu:
Tidurlah anakku. Tidurlah permata hatiku.

Alam semesta, Tuhan, bangku taman dan air kolam, pagar besi, embun pagi, kuburan kucing kesayangan yang kautangisi, boneka cantik bernama Dora, kelambu, pita merah, bak mandi, seragam sekolah, penjual es krim simpang jalan,
naik sepeda keliling kota.

Hari ini kaukabarkan aku, seorang lelaki
yang kelak membawamu jauh pergi
ke lain hati!

“Anakku, puteri kesayangan, bidadari kecilku, malam ketika engkau lahir aku mendengar suara tangis pertamamu. Maka kubuka jendela, memandang jagat raya: seluruh ketakjuban pada langit dan milyaran bintang datang menghampiriku. Aku dilumur cahaya. Aku terpesona. Aku mandi dalam laut sukacita. Tubuhku terbang seringan udara.”

“Tahukah engkau,
bahwa tak ada suara paling merdu di hamparan semesta,
yang mengalahkan tangis pertamamu?”

Gadisku kembang jambu. Kamu merangkak dalam pelukan. Kamu tidur dalam buaian. Kamu belajar menggenggam tangan.
Ketika kata kauucapkan, mengeja kalimat dan mendengar.
Mencari susu. Meremas boneka. Menjerit. Menggigit. Mengompol. Tertawa. Seluruh tubuhmu
dilumuri surga.

Seluruh harta karun di bumi jika dikumpulkan, tidak akan sebanding dengan kebahagiaan yang kauberikan padaku, ketika kau mulai bisa berjalan,
dan berlari memberi pelukan.

Jika engkau sakit, maka semua lampu di jalanan kota gelap gulita. Gunung dan bukit runtuh, pohonan rebah,
badai tujuh gurun mengamuk mengubur rumah kita: aku, ibumu, dan kamu.

Sebab tak ada duka terdalam selain melihat satu nafasmu yang sakit kauhela. Tak ada malapetaka terhebat
selain mendengar jerit erangmu yang lara.

Tapi ketika kau mulai tersenyum, wahai gadis kecilku, ketika sakitmu mereda pipimu merah merona,
maka aku tahu bahwa seluruh harta di dunia sungguh tak berharga. Tawa riangmu kilau mutiara.

Berapa ribu kecupan telah mendarat di pipimu, sayangku?
Berapa ribu belaian telah diusapkan pada rambutmu, gadisku?
Berapa ribu pelukan tidur dan jaga, yang pernah kauhitung
hingga kau gadis dewasa?

Tahukah engkau,
pada setiap satu kecupan,
pada setiap satu belaian,
pada setiap satu pelukan,
tersimpan kebahagiaan yang tak pernah bisa tergantikan
oleh apa pun yang ada di dunia.

Engkau telah memberiku kebahagiaan hidup.
Engkau anugerah terindah, paling mulia
yang diberi Tuhan hanya untukku.

Maka pergilah, anakku,
menikahlah engkau, seberangi dunia luas, bersama lelaki yang kaucinta.

Maka pergilah, gadisku kembang jambu, jangan lagi tanya kebaikan apa
yang bisa membalas semua. Engkau memberi lebih banyak.

Akulah Ayahmu, yang patut berterimakasih padamu, anakku.
Kelahiranmu karunia, memberiku jutaan bahagia yang tak tergantikan, bahkan oleh surga beserta seluruh isinya.

Pergilah, menikahlah,
terbanglah engkau,
bidadariku,
kesayanganku.

 

Saya tidak tahu dari mana tulisan ini aku dapatkan. Tak sengaja aku membuka dokumen-dokumen, dan bertemulah dengan puisi ini. Puisi buah tangan mas Joni Ariadinata, sahabat saya waktu kuliah. Pernah menggarap majalah kampus bersama-sama. Mas Joni ini memang tulisannya yahud… beberapa sudah diterbitkan dalam bentuk buku, dan saya memilikinya.