Menjadi Diri Sendiri

Jum’at Berkah

Menjadi diri sendiri – Nietzsce

Suatu Ketika, dalam sebuah perang Khandak, Amr bin Abd Wad menantang duel dengan umat Islam. Beliau adalah pemuka dan pimpinan Quraish yang sangat ditakuti. Mendapat tandangan satu lawan satu, Rasulullah bertanya kepada sahabat, siapa yang berani melawan Amr bin Abd al-Amiri. Semua sahabat mengetahui bagaimana kehebatan Amr bin Abd Wad. Berbadan tinggi tegap, memperlihatkan profil seorang prajurit sejati, kelihaian memainkan pedang, dan tidak takut dengan siapapun.

Mendengar siapa yang akan bertarung, semua sahabat takut. Hanya Ali bin Abi Thalib yang bersedia. Melihat Ali yang masih muda, dan bersedia bertanding, Rasulullah mengulang tawaran lagi kepada para sahabat. Setelah mantap dan mendapat restu Rasulullah, Ali pun maju berlaga.

Melihat Ali bi Abi Thalib yang maju, Amr bin Abd bin Abd Wad tertawa terbahak-bahak, sambil mengejek. Menggap bahwa Ali masih bocah. Perkelahian berlangsung sengit. Ali tidak terpengaruh dengan olokannya. Ali konsentrasi penuh untuk mengendalikan pertikaian. Akhirnya Amr bin Abd Wad tumbang, terpuruk di tanah.

Kemenangan sudah di depan mata. Sekali lagi Ali mengayunkan pedang, tewas. Dalam posisi terpojok, Amr masih sempat meludah ke wajah Ali. Namun demikian, Ali tetap diam. Bahkan, Ali mengundurkan diri dan membiarkan Amr masih hidup dan tergeletak di tanah, sampai beberapa saat.

Mengapa Ali bin Abi Thalib memilih tidak membunuh? Bahkan membiarkan Amr hidup? Peristiwa demikian, mengundang tanda tanya. Para sahabat penasaran terhadap perilaku Ali. Setelah dirasa cukup reda, Ali menjawab “Saat dia meludahi wajahku, aku marah. Aku tidak akan membunuhnya hanya karena marah. Aku menunggu sampai hilang marahku dan membunuhnya karena Allah”.

Ibrah dari kisah ini adalah tentang hakikat jihad, yang sampai sekarang masih dimaknai oleh kelompok tertentu, harus berperang. Secara pribadi, Ali berhasil menahan amarah, meskipun raut wajahnya diludahi. “Saat dia meludahi wajahku, aku marah. Aku tidak ingin membunuhnya lantaran amarahku. Aku tunggu sampai lenyap kemarahanku dan membunuhnya semata-mata karena Allah”.

Sayyidina Ali memberi pelajaran, bahwa Allah satu-satunya dasar dalam kepasrahan diri. Teriakan takbir belum tentu menjamin seseorang bertindak atas nama Allah. Boleh jadi lantaran hawa nafsu. Karenanya, dalam situasi apapun harus dituntun dengan hati yang jernih.