Menyikapi Surat Edaran Majelis Dikdasmen PDM Kota Yogyakarta

Muhammadiyah, hingga detik ini, setidaknya masih eksis dalam pergerakan pemurnian Agama Islam. Motto kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah senantiasa menjadi ruh dalam setiap mengamalkan ajaran Islam yang dituntunkan oleh Nabi Muhammad S.A.W. Sehingga yang tampak hanyalah semangat mencari Ridlo Allah.

Keperkasaan Muhammadiyah tidak mungkin runtuh jika tidak ditopang oleh tonggak amal usahanya. Diantara sekian banyak amal usaha, yang tampak semarak adalah dalam bidang pendidikan (sekolah). KHA Dahlan telah berhasil memadukan antara kebutuhan ilmu ukhrawi dengan ilmu duniawi. Membabat takhayul, khurafat dan bid’ah. Pada saat yang sama mempelajari dengan sungguh-sungguh ilmu hitung, sosial, politik dan kebudayaan.

Dari dua kebutuhan pokok itu, maka perlu kekuatan untuk menggerakkan agar manusia mencapai keseimbangan. Tidak berat sebelah. Orang tidak akan fanatik menggenggam ajaran ukhrawi. Justru dengan menelan sebanyak mungkin informasi keduniaan, akan menambah ketebalan kadar keimanan. Sebaliknya, tidak akan muncul orang yang menghamba kepada dunia, tapi mengalami kegersangan jiwa.

Beberapa waktu yang lalu, Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasnen) PDM Kota Yogyakarta mengeluarkan surat edaran tentang seleksi penerimaan tenaga pendidikan dan kependidikan. Surat itu menandaskan bahwa  penerimaan pegawai disetiap lini dalam amal usaha Muhammadiyah bukan perkaya yang sepele. Namun sangat mendasar. Persyarikatan akan mencoba untuk menjawab tata kehidupan seperti yang dicontohkan Rasulullah. Manusia yang kokoh agamanya sekaligus unggul keduniaannya. Generasi muda, menurut Muhammadiyah harus selalu tampil meyakinkan. Yaitu generasi yang mampu mencerna kedua ilmu seperti sebuah mata uang yang saling bersisian.

Untuk mewujudkannya, diperlukan tenaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan yang mumpuni, yaitu mereka yang mampu menyerap dan menafsirkan dalam langkah nyata lewat produk-produk Muhammadiyah. Seperti : Matan Keyakinan dan Cita-cita  Hidup (MKCH) Muhammadiyah, Faham terhadap Kepribadian Muhammadiyah, trampil melaksanakan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Muhammadiyah. Produk Muhammadiyah yang senantiasa diperbaharui, sesuai dengan lingkungan dan masa, serta mendapat konsensus, harus selalu menjadi pegangan dalam setiap menggerakkan amal usaha Muhammadiyah.

Mengapa Majelis Dikdasmen memerlukan tenaga  untuk menggarap amal usahanya lewat seleksi tersentral? Karena Muhammadiyah memerlukan :

  1. Kompetensi. Selama ini, sekolah melakukan rekruitmen tenaga pendidik dan tenaga kependidikan melalui sekolah. Padahal belum ada produk standar lengkap dengan teknisnya penerimaan tenaga yang mampu mengevaluasi secara merata. Bahkan tidak jarang, orang yang akan mengabdi di sekolah Muhammadiyah tanpa melalui seleksi.

Standar kompetensi sangat diperlukan mengingat misi yang diemban Muhammadiyah adalah menciptakan generasi yang berakhlakul karimah. Tugas yang berat. Bila tugas yang mulia ini diamanatkan kepada sembarang orang, maka cita-cita Muhammadiyah sangat sulit untuk terwujud.

  1. Menghindari Nepotisme. Pengalaman membuktikan bahwa tidak sedikit tenaga yang direkrut untuk mengelola sekolah, berdasarkan kenalan, sahabat, atau bahkan kerabat keluarga. Akibat dari pola yang demikian itu, tidak jarang penempatan ketenagaan dalam melaksanakan pekerjaan juga berdasarkan kekerabatan. Bukan atas dasar kemampuan.

Namun semua itu bukan lantas kesalahan ada di pihak sekolah. Banyak sekolah yang belum mandiri, sehingga untuk memenuhi kebutuhan, masih berdasarkan “asas mendadak”. Inilah salah satu kelemahan amal usaha Muhammadiyah. Belum ada perencanaan yang matang.

Oleh karena itu, niatan dari Persyarikatan kita dukung dan dicermati. Beberapa hal yang perlu menjadi agenda dalam seleksi tenaga pendidik dan kependidikan (secara kelembagaan) adalah  : 1. Menyeimbangkan Mutu Pendidikan. Tidak mungkin mutu pendidikan di sama ratakan, meskipun dalam level yang sederajad. Yang paling mungkin adalah meningkatkan mutu pendidikan bagi sekolah belum memiliki standar mutu pendidikan. Bidang garap ini adalah domain Majelis Dikdasmen.

Majelis Dikdasmen memiliki struktur otoritas dengan sekolah. Artinya bahwa sebagai pengemban amanah dalam pendidikan di lingkungan Muhammadiyah, Dikdasmen punya kewenangan yang mutlak untuk menggarap di sekolah tertentu. Dengan kewenangan yang besar ini, diharapkan Dikdasmen harus memiliki acuan standar untuk menilai sebuah sekolah. Sebab dengan acuan yang standar penilaian akan berjalan obyektif. 2. Menyeimbangkan Finanasial. Motto: Hidup-hidupilah Muhammadiyah, Jangan mencari kehidupan di Muhammadiyah, nampaknya sudah berjalan pada kalimat pertama. Kalimat yang kedua “jangan mencari kehidupan”, masih menjadi multi tafsir. Tergantung siapa yang berbicara. Kalau yang berbicara orang yang sudah mapan secara finansial, maka dia akan meluangkan waktu sebaik mungkin untuk berkiprah di Muhammadiyah, tanpa mengharap imbalan. Namun, bila yang mengatakan orang yang bekerja di Muhammadiyah, sebagai pekerjaan yang pokok, tentu akan memiliki tafsir yang berbeda.

Menyamaratakan penghasilan bagi orang yang bekerja di Muhammadiyah juga tidak mungkin. Sebab, sampai saat ini materi antar sekolah di lingkungan Muhammadiyah tidak sama. Tugas Dikdasmen dan majelas lain yang terkait, adalah memantau secara aktif sirkulasi keuangan di lembaga pendidikan, untuk kesejahteraan bagi pendidik dan tenaga kependidikan. Bila hal ini sudah berjalan, maka calon tenaga pendidik dan kependidikan tidak akan segan untuk mengikuti seleksi dan siap ditempatkan di setiap amal usaha Muhammadiyah.