Metaverse

Sedikit demi sedikit, penggunaan uang untuk transaksi sudah mulai berkurang. Pengguna jasa dalam bidang transportasi, bisnis, pendidikan, dan apapun bentuknya sudah beralih ke uang virtual. Baik produsen maupun konsumen, tanpa perjanjian yang legal, telah nyaman memanfaatkan uang virtual sebagai aktivitas jual beli.

Munculnya jasa atau layanan transaksi virtual marak dalam dunia maya. Toko-toko digital, yang telah menggusur supermarket ataupun mall, menjadi gerai alternatif bagi konsumen yang akan berbelanja. Meskipun disana-sini masih terdengar nada kegetiran karena barang tidak sesuai dengan yang ditawarkan.

Internet sebagai media komunikasi, akan semakin menancapkan peran dengan munculnya metaverse. Istilah ini muncul setelah Mark Zuckerberg, pendiri facebook mengungkapkan visinya untuk membangun sebuah dunia virtual. Metaverse sendiri merupakan teknologi Augmanted Reality (AR) yang memungkinkan seseorang untuk berinteraksi dengan orang lain secara virtual. Dalam bahasa yang sederhana, Metaverse merupakan simulasi dunia manusia yang ada di internet.

Orang yang memiliki naluri bisnis, metaverse adalah peluang. Ia akan membayangkan, sekumpulan orang yang akan menyaksikan pertandingan sepak bola, akan berbelanja terlebih dahulu. Minimal, pernak-pernik klub kesayangan. Toko yang menggelar dagangannya juga berbentuk virtual. Tetapi, orang tersebut duduk manis di rumah yang ditemani secangkir kopi dan snack yang menyertainya.

Menyaksikan The Minions berlaga di kejuaraan All England, juga tidak perlu datang ke negerinya Ratu Elizabeth. Ia cukup duduk di teras. Sambil menunggu saat pertandingan digelar, masih sempat menyiram tanaman kesayangan agar tak layu sebelum berkembang. Ia juga sempat memilih aksesorinya si tengil Kevin, atau si ratu bulutangkis Tai Tzu Ying dari Taiwan.

Kita mengetahui bahwa dunia olah raga dan bisnis telah menjadi sahabat karib sejak pertandingan professional dikibarkan. Tak heran bila seorang atlit dalam mengenakan kelengkapan pakian, selalu bertengger sebuah merk yang mendunia. Seorang atlit bahkan menjadi rebutan berbagai macam merk untuk menjadi sponsor tunggalnya. Itulah bisnis. Dimana orang berkerumun, disitu bau bisnis sangat menyengat.

Dalam dunia pendidikan, metaverse adalah peluang. Sekarang saja kita cukup beruntung dengan persaingan antara Google dan Microsoft. Mereka berkejar-kejaran untuk mendapatkan simpati. Fitur-fitur yang mereka gelontorkan dimanfaatkan oleh guru secara percuma. Dunia virtual adalah dunia masa depan.

Guru Geografi, tak perlu repot mengajarkan pasang surut dan pasang naik di sebuah pantai. Guru cukup memberi kata kunci di sebuah kanal (misal youtube), seketika akan tampak secara virtual bagaimana perilaku air di sebuah pantai. Guru oleh raga cukup mencari jadwal, kapan kejuaraan atletik dilaksanakan. Guru cuma memberi rambu-rambu kepada siswa, selebihnya mereka mengeksplore. Kelas untuk masa depan adalah kelas virtual.