Metode Pygmalion

Tersebutlah seorang gadis manis di sebuah kelas. Ia sangat pemalu. Bukan hanya karena orang tuanya hanya seorang petani. Bukan pula karena berasal dari sebuah desa. Ia merasa rendah diri, minder dengan lingkungannya, karena ia sadar bahwa wajahnya tidak ayu. Tidak seperti teman-temannya, yang sudah mengenal pupur dan pemerah bibir. Setiap hari kerabatnya selalu ceria dan pesolek. Jadilah dia seorang murid yang minder dan rendah diri.

Hati yang diliputi penuh ketidakpastian, serba bimbang dan ragu, diam-diam ada seorang lelaki yang menaruh hati kepadanya. Semula ia tidak mengetahui kalau ada seorang lelaki yang suka padanya. Ia juga tidak percaya bahwa masih ada lelaki yang tertarik pada dirinya. Perasaan yang penuh kebimbangan ini, ia timbang berulang-ulang. Antara percaya dan kemustahilan.

Disuatu saat, si lelaki menumpahkan isi hatinya kepada si gadis manis. Perasaan suka memang tidak harus diujudkan dalam bentuk sepucuk surat atau barang lainnya. Tersenyum dan mengucap “hai” juga sebagai tanda telah meluruhkan perasaan ketidakpastian. Tadinya serba beku, kini mencair. Tadinya serba kaku, sekarang menjadi berbinar. Tiba-tiba ada perubahan dalam diri si gadis. Kini ia lebih sering di depan kaca hias. Sisir tak pernah lepas dari genggaman tangan. Lirik lagu romantis semakin mudah dihafal. Tiada hari tanpa bersolek dan berkaca diri.

Karena tiap hari ia rawat wajah, rambut, dan semakin terukur cara berdandan, ternyata bukan hanya si lelaki itu yang melirik. Banyak teman lelaki di kelas menjadi semakin dekat dengan si gadis. Si gadis tumbuh menjadi anak yang percaya diri. Pergaulannya semakin supel. Semakin banyak kosa kata yang ia ucapkan saat bercengkerama dengan teman. Namun ia tetap humble. Akibatnya, secara diam-diam si gadis diperebutkan oleh banyak lelaki. Persaingan diantara siswa putra semakin hari semakin sengit. Ungkapan terus terang sebagai “rasa senang” datang bertubi-tubi tanpa rasa malu.
Cerita di atas mirip dengan teori Pygmalion. Dalam mitologi Yunani, Pygmalion adalah seorang pematung yang sangat terkenal. Suatu ketika ia membuat patung seorang wanita yang cantik. Ia pahat garis demi garis, lekuk demi lekuk. Menjelmalah sebuah patung wanita, yang diidamkan. Karena rasa kasih sayang yang sangat dalam terhadap patung itu, maka ia memohon kepada dewa agar patung tersebut supaya dihidupkan seperti hidupnya manusia. Dewa menyetujui, dan seketika patung tersebut menjadi seorang wanita yang cantik.

Efek Pygmalion, telah dipakai oleh beberapa bidang kehidupan, seperti seni, manajemen, perusahaan, pendidikan dan lain-lain. Teori ini dipakai untuk mempengaruhi orang lain agar orang tersebut berbuat seperti yang kita inginkan. Pertama, adalah mempengaruhi orang lain agar orang tersebut tergerak. Dalam hal ini, tadinya si gadis adalah orang yang demikian kaku dan rendah diri. Akhirnya si gadis menyadari, bahwa ada orang lain yang memperhatikan.

Kedua, dampak dari perhatian, akhirnya si gadis bertindak sesuai dengan kemampuannya. Ia menjadi pesolek dan lebih banyak bercermin. Ini menandakan bahwa, banyak potensi yang belum digerakkan. Si gadis mulai mengeksplore, apa yang harus dimanfaatkan agar orang lain tertarik. Ia mulai menggeliat. Energi yang semula tersimpan, mulai digunakan untuk orang lain.

Ketiga, Menyebabkan. Dari perilaku yang telah diperbuat oleh si gadis buat orang lain, menyebakan perubahan pada lingkungan. Perubahan tidak hanya pada orang per orang tapi pada skala yang lebih luas. Komunitas yang lebih beragam. Inilah yang dapat menimbulkan efek yang keempat, yaitu memperkuat apa yang menjadi keinginan kita.

Seorang guru, awalnya mungkin hanya mempengaruhi satu atau dua siswa. Guru memberikan motivasi tertentu pada siswa itu dengan cara yang dimiliki. Seiring waktu berjalan, siswa tersebut memberi dampak kepada teman-temannya. Sehingga, apa yang menjadi harapan guru itu terwujud. Dapat mencapai tujuan bersama dengan cara sesuai dengan karakternya masing-masing.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *