Nilai Hakiki Sebuah Perkawinan

Jum’at Berkah

Kehidupan manusia melewati tiga fase yaitu kelahiran, pernikahan dan kematian. Dari ketiga periode itu, pernikahan merupakan kegiatan yang dapat direncanakan. Sebaliknya dua fase, tidak dapat diketahui kapan datangnya. Artinya, kelahiran dan kematian tidak dapat dirancang. Tempat dan waktu menjadi misteri.

Pernikahan, kadang disalah tafsirkan. Tata cara melaksanakan, sering mendahulukan sekundernya dari pada rukunnya. Rasulullah sendiri membenarkan, perayaan pernikahan dilakukan lebih dari satu hari, dengan dasar apabila sarananya mencukupi. Resepsi boleh dilaksanakan semeriah mungkin, asal memandang kiri-kanan sebagai tetangga. 

Tujuan membentuk keluarga baru adalah sakinah mawaddah wa rahmah. Namun, tidak sedikit yang mengalami kegagalan. Ketidakharmonisan dalam mengemudikan bahtera rumah tangga kandas lantaran komunikasinya tidak “klik”. Arah yang akan dituju mestinya suasana damai, tentram, bahagia dan sejahtera lahir batin. 

Sebagai rujukan, konsep Islam memandang bahwa perkawinan yang sah itu memiliki nilai yang luhur, agung, indah dan bersifat sakral. Perkawinan jangan dibuat untuk mainan. Karena ini terkait dengan keturunan, solidaritas sosial, dan juga pertahanan Agama. Karena perkawinan merupakan salah satu pondasi berdirinya sebuah keluarga. Andai keluarga goyah, maka negara akan rapuh. 

Perkawinan sendiri berasal dari Bahasa Arab “nikah” yang makna aslinya “aqad” atau ikatan. Dalam tuntunan Rasulullah, pernikahan adalah perjanjian suci yang harus dilakukan oleh setiap orang Islam. Kecuali yang menjadi penyebab istimewa, sehingga seseorang diperkenankan untuk tidak melakukan pernikahan. Sedemikian penting arti pernikahan dalam kehidupan ini, maka Islam sangat menekankan agar bersegera melaksanakan pernikahan, yang telah memenuhi syarat-syaratnya. 

Menghabiskan hidup dan menua bersama kekasih idaman, boleh dikatakan impian setiap manusia. Setiap perbedaan selalu dicari solusi bersama. Setiap ada permasalahan selalu dibicarakan bersama, ada pembagian tugas sesuai peran masing-masing. Hidup bersama dengan orang lain, juga dibutuhkan keharmonisan keluarga. Satu dengan lainnya membuat jaringan, kesepakatan bersama, dipikul bersama, sehingga terwujud masyarakat saling menghargai. Saling membutuhkan.