Paus Yohanes Paulus II

Begitu serah terima dari Kardinal Albino Lucia (Paus Yohanes Paulus I) dari Vecine kepada Karol Jozef Wojtyla (Paus Johanes Paulus II) dari Polandia, seketika itu juga Yuri Andropov, saat itu Kepala KGB (Komitet Gosudartvennoy Bezopasnosti) agen rahasia Uni Sovyet, mengontak koleganya di Warsawa, Polandia. Hanya sebuah kalimat yang terucap “Bagaimana Anda dapat membiarkan seorang warga negara dari sebuah negara Sosialis dipilih menjadi Paus?”

Polandia, saat itu masih dalam pusaran blok timur dibawah komando Uni Sovyet. Perkumpulan negara di Eropa timur memang mengambil posisi berhadapan dengan blok Barat pimpinan polisi dunia, Amerika Serikat. Tiba-tiba ada seseorang dari Eropa Timur yang naik podium menjadi imam. Kiblat kaum Protestan sedunia. Maka mereganglah ego pimpinan di kawasan negara sosialis. Tidak layak di sebuah wilayah kawasan komunis muncul dua sosok figur. Pertama Presiden Uni Sovyet dan Paus Johanes Paulus II.

Tentu masih melekat dalam ingatan, seorang aktivis buruh. Lech Walecha. Ia lahir di tanah Polandia. Dia dianggap tokoh yang menyingkirkan komunisme dan memperkenalkan demokrasi. Sehingga pada tahun 1983 memperoleh penghargaan Nobel Perdamaian.

Dalam hukum fisika, apabila sebuah air dalam tabung ditekan, maka air dalam tabung lain akan memperoleh energi dari bawah. Teori ini sejalan dengan faham kemasyarakatan. Apabila hak-hak manusia untuk tumbuh dan berkembang sesuai nalurinya, ditekan atau dipangkas, maka akan ada kekuatan yang timbul dari dalam. Melakukan perlawanan. Gambaran seperti ini tepat disematkan pada negara Polandia. Tercatat ada dua orang yang mampu melesat ke permukaan, akibat pentrasi yang berlebihan dari negara. Paus Johanes Paulus dan Lech Walecha. Agama juga turut andil bagian untuk menumpas keserakahan. Bagaimana mungkin negara tirani komunis, dapat dijebol oleh orang rigiditas negara hanya oleh kelemah lembutan seorang bocah Jozef Wojtyla.