Pembinaan Generasi Muda di Kampung

Tadi malam saya diundang oleh pemuda karang taruna sebagai salah seorang sesepuh (hopo hora hebat, umur belum kepala 5 sudah mendapat julukan tetua kampung). Kehadiran saya tentu saja dengan rekan-rekan pengurus RW. Maksud diadakan pertemuan tak lain adalah menjalin silaturahmi dan sumbang saran tentang kegiatan karang taruna di kampung.

Bertempat di serambi masjid, pertemuan antar generasi dilaksanakan. Kami ditempatkan pada tempat duduk yang agak dimuliakan. Sebagaimana tradisi kampung rapat dimulai jam setengah sembilan. Molor satu jam dari rencana. Kali ini rapat berlangsung agak kecut, masam dan pahit karena tidak disediakan minuman. Namun kami sebagai orangtua cukup surprise, karena itikan baik pemuda untuk turut berperan serta menciptakan kampung yang meriah tapi damai.

Keberadaan karang taruna kali ini berbeda 2 tahunan yang lalu. Sekarang saya melihat wajah pemuda berumur seputar 18 tahun ke bawah. Saya menganggap sesuatu yang positip. Dengan adanya anak seumuran seperti itu berada di kampung dan ikut aktif menggerakkan masyarakat, berarti roda aktifitas masyarakat akan selalu berputar. Karena mereka rata-rata masih sekolah SLTA, dan kebanyakan masih ikut dengan orangtua. Belum merantau untuk kuliah atau bekerja diluar kota.

Setelah rekan saya memberi sedikit nasihat tentang peranan pemuda di kampung giliran saya untuk menyampaikan beberapa sumbang saran, demi kedinamisan masyarakat . Ada 3 saran yang saya lontarkan dalam pertemuan yang diselimuti dingin yang menyengat.

Pertama Pengembangan Pribadi

Rata-rata pengurus karang taruna masih duduk di bangku SLTA. Kebetulan banyak yang masuk ke jenjang SMK. Saya mengambil sisi positipnya, bahwa di SMK berarti masa depannya sudah tergenggam, sekalipun setelah lulus juga banyak yang bingung. Artinya, bila tidak melanjutkan kuliah paling tidak sudah memiliki ketrampilan sesuai dengan jurusannya.

Saya katakan apapun jurusannya, meningkatkan ketrampilan dan mengembangkan wawasan harus menjadi prioritas utama. Ilmu yang didapatkan saat ini, tahun depan mungkin sudah tidak relevan lagi, apalagi bila bergerak dalam bidang teknologi.  Sebelum mengurus orang lain, sebelum menekuni organisasi, ciptakan pribadi yang mandiri dan berkompeten.

Kedua Berorganisasi

Karang taruna di kampung rupanya baru mengalami simbiosis. Bila periode sebelumnya, seorang ketua bisa nongkrong bertahun-tahun tanpa ada batasan waktu, kali ini saya mengatakan lebih baik 2 tahunan saja kepengurusan pemuda. 2 tahun merupakan waktu yang ideal mengingat mayoritas pengurus masih sekolah di SLTA dan beberapa ada yang masih di SMP. Dengan demikian pembaharuan akan terus terjadi dalam tubuh organisasi. Dinamisasi organisasi akan terus melaju tanpa mengenal kebosanan.

Ketiga Program Kerja

Ada orang, ada organisasi, bila tak ada program kerja sama saja orang mengobrol. Membuat program kerja yang bisa dirasakan manfaatnya oleh orang lain juga tidak mudah, karena organisasi itu terdiri dari beberapa orang yang setiap kepala punya kemauan yang berbeda. Menjalankan kegiatan sesuai dengan program kerja juga membutuhkan ketrampilan. Memerlukan seni berkomunikasi.

Dikarenakan  yang akan melaksanakan anak yang baru belajar, apa salahnya bila program kerjanya disesuaikan dengan ketrampilan yang dimiliki. Oleh karenanya saya katakan kepada pengurus RW supaya menyediakan sarana berupa kegiatan yang menunjang kompetensi anak. Buat kegiatan sesuai dengan jurusan anak namun sifatnya menghibur. Jurusan manejemen pertelevisian diperbolehkan memperagakan sebagai seorang reporter misalnya. Jurusan bangunan diberi mandat untuk merancang, dan membuat atau memperbaiki  fasilitas yang dimiliki kampung. Yang senang teknologi informasi diberi beban untuk mengais berita dan menyebarkan kepada masyarakat. Intinya bahwa membuat program kerja  adalah yang terjangkau dan terukur, namun sekaligus bisa meningkatkan ketrampilan.