Pendidikan dan Pengajaran

Harus diakui bahwa dimasa pandemic covid-19 ini semua menjadi tidak nyama. Kami yang tiap hari berkiprah di dunia pendidikan merasakan benar betapa susahnya membuat siswa paham materi pelajaran lewat daring. Mengajar dengan tatap muka langsung, paling tidak seorang guru bisa merasakan penyampaian materi pelajaran dipahami atau tidak dipahami oleh siswa. Bila tidak paham saat itu juga guru mengulang lagi, dengan intonasi, metode, maupun bahasa yang mudah dipahami.

Dimasa pandemic ini tiap hari guru harus berjibaku dengan teknologi kekinian. Membuat perencanaan, membuat materi ajar, mengadopsi ke aplikasi sampai pada assesmentnya. Bagi yang belum menguasai, memang akan mengalami kesulitan. Namun langkah demi langkah guru terus berusaha agar kewajiban sebagai guru tidak terabaikan.

Tak kurang hebohnya adalah orang tua. Sebagian besar orang tua tidak siap untuk mengganti guru pada saat di rumah. Padahal sebenarnya fungsi keluarga salah satunya adalah untuk pendidikan bagi anak-anaknya. Namun masyarakat sudah salah kaprah apabila pendidikan diserahkan sepenuhnya pada sekolah. Bagaimana pendidikan akan berhasil kalau melihat rasionya saja 1:15. Artinya satu guru harus mengasuh 15 siswa. Bandingkan kalau di rumah.

Tidak heran apabila orang tua berkeluh kesah di media sosial, menghadapi anaknya yang diberi materi pelajaran atau tugas dari guru. Berikut ini salah satu keluhannya. Saya kutipkan secara utuh.

Kepada yth bpk2 pemimpin….  daerah dan pusat. 

Saya mewakili wali murid seluruh indonesia yg insya Allaah satu suara.   Tolong dg sangat “BUKA KEMBALI SEKOLAH UTUK ANAK2 KAMI”.  Kami tidak semuanya paham dan ngerti cara belajar online.  Kami tidak selalu punya uang utk beli paket data.   Dgn adanya belajar online… tidak membuat anak2 kami ngerti dg materi pelajaran, malah tambah bodoh…malas…tidak disiplin….  bahkan yg lebih parah….  MEMPERCEPAT ANAK2 INDONESIA MENGALAMI KEBUTAAN DINI karena kebanyakan mantengin ponsel….    Apakah ini yg namanya SOLUSI????    Bapak/ ibu pemimpin yg terhormat….  tolong pertimbangkan lagi  kebijakan yg kalian ambil.    Aktifitas kami di batasi dg ancaman covid, sementara beratnya beban hidup kami seolah tak kalian peduli.   Jika sekolah masih terus di tutup, apa jadinya dg anak2 kami….!  Pasar bebas ramai , berkerumun,  tanpa khawatir terpapar covid,  pantai dan tmpat wisata di buka,  tmpat hiburan di buka,   pesawat penuh sesak dg penumpang….   mall  juga di buka.   Tapi kenapa  SEKOLAH  DI TUTUP hanya karena takut terpapar covid?! .  Tolong… pak… bu….  bukalah lagi sekolah kami,   tmpat anak2 kami menuntut ilmu, tmpat di mana anak2 bertemu kawan dan guru guru….   sementara di rumah….  kami sbg ortu  sudahlah di repotkan dg pekerjaan rumah,  kebutuhan sehari hari….  masih lagi di repotkan dg  mengajarkan materi yg ada di buku tema kpd anak yg notabene  itu bukan kapasitas kami…    karena  memang  itu di luar kemampuan kami.    Saya mohon…..  kpd bpk/ ibu yg trhormat….   tolong…. BUKA… BUKA…. BUKA    SEKOLAH KAMI.    Jgn sampai menunggu  kejadian…  yg tak di harapkan terjadi dan ter alami di suatu saat nanti.

Kami dalam posisi tidak mempermasalahkan isinya. Apakah media sosial itu benar atau salah, hoax atau bukan, itu bukan urusan sekolah. Dalam keadaan serba dilematis tentu pengambilan salah satu opsi bukan langkah yang bijaksana. Kalau daring secara terus-menerus, siswa akan bosan. Kalau dibuka kelas dengan metode tatap muka resikonya terlalu besar untuk saat ini. Akan lebih baik bila guru dan orang tua bersinergi, menemukan cara yang terbaik.

Mereka yang terlanjur menentukan pilihan bahwa anak sudah diserahkan sepenuhnya kepada sekolah, cobalah tarik kembali pernyataan itu. Sebaliknya, bila ada guru yang mengatakan bahwa transfer ilmu hanya didapatkan di sekolah, juga pernyataan yang tidak benar. Marilah kita simak makna Pendidikan dan Pengajaran.

Pengajaran adalah proses belajar atau proses menuntut ilmu. Ada dosen, guru, ustadz yang mengajar atau menyampaikan ilmu kepada murid yang belajar. Hasilnya murid menjadi pandai, dan berilmu pengetahuan (‘alim). Pendidikan adalah proses mendidik yang melibatkan penerapan nilai-nilai. Di dalam pendidikan terdapat proses pemahaman, penghayatan, penjiwaan, dan pengamalan. Ilmu yang telah diperoleh terutama ilmu agama dicoba untuk difahami dan di hayati hingga tertanam dalam hati dan dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain pendidikan menyangkut tentang akhlak.

Pendidikan antara lain adalah memperkenalkan Tuhan kepada manusia. Membersihkan hati insan dari sifat-sifat keji (mazmumah) dan mengisinya dengan sifat-sifat terpuji (mahmudah). Pendidikan juga mengembalikan hati nurani manusia kepada keadaan fitrah yang suci dan bersih. Nafsu perlu dikendalikan supaya tidak cenderung kepada kejahatan dan maksiat tetapi cenderung kepada kebaikan dan ibadah. Disini peran orangtua sangat menentukan. Orang tua sebagai model atau contoh bagi anak-anaknya.