Penyakit Lupa

Sering saya jumpai beberapa anak lupa terhadap cara menemukan jawaban. Jangankan mengingat sebuah rumus. Saya suruh menyebutkan nama saja, masih alpa. Tidak dapat menghafat kosa kata, rumus, nama barang dan lain-lain memang menghinggapi bukan saja orang tua. Usia beliapun dapat juga terserang.

Dalam istilah kesehatan atau psikologi, penyakit lupa disebut Alzhimer, yaitu penyakit pada otak yang secara berlarut-larut dapat menyebabkan penurunan daya ingat seseorang dan kognitif lainnya. Gejala ini sering terjadi pada usia enam puluhan.

Orang yang terjangkit Alzhimer dapat ditemui dengan gejala, antara lain sering lupa meletakkan barang. Bukankah acap kali kita mendapati orang yang sering lupa meletakkan kunci, misalnya. Kita juga sering menjupai sahabat yang tidak dapat mengingat kebiasaan acaranya sendiri.

Kesulitan berkonsentrasi, banyak ditemui pada masa anak-anak. Ini disebabkan keasyikan mereka sendiri terhadap dunianya sendiri. Misalnya, terlalu sering main game. Untuk sesekali mungkin bukan sebuah hambatan. Namun kalau kebiasaan ini menjadi sebuah aktivitas rutin, akan mengakibatkan Alzhimer.

Mungkin kebiasaan ini dianggap ringan. Kesulitan mengenali Angka. Orang yang menemui hambatan mengenali angka dan uang, dapat terjadi karena pengalaman yang kurang baik. Saya menjupai anak-anak seperti ini, biasanya karena tidak suka terhadap pelajaran matematika. Mereka sudah merasa pusing, manakala sudah melihat deretan angka.

Mereka yang suka berjalan-jalan tanpa tujuan, menyuburkan orang yang akan terkena Alzhimer. Tanpa kita sadari, kita sering membolehkan anak kita diajak temannya untuk diajak bermain-main tanpa tujuan. Secara tidak langsung, bermain keluar tanpa arah, sama saja menabung kebiasaan menuju Alzhimer.

Seorang kepala staff, direktur ataupun kepala sekolah tidak dapat mengambil sebuah keputusan. Meskipun sudah disodori beberapa lternatif pemecahannya. Dianggap semua keputusan baik, dan akan mampu menyelesaikan masalah, Sehingga Ia bingung memutuskan untuk dirinya sendiri. Biasanya, kondisi seperti ini justru pada saat harus memutuskan kegiatan yang ringan.

Bagaimana agar penyakit lupa ini tidak menjalar kemana-mana, dan tidak menyebabkan akut? Pertama, atur kembali jam istirahat atau tidur. Otak yang diperas untuk memikirkan persoalan yang berat, harus diimbangi dengan suasana rileks, sekedar mencari angin sejenak, atau rebahan. Sebab, kehidupan ini tidak menuntut hal-hal yang berat. Justru dengan pergaulan yang ringan seperti menyapa tetangga, berkumpul di pos ronda akan meredakan syarat otak.

Kedua, Mengatur pola makanan. Saat ini memang terjadi melimpahnya makanan. Kuliner terjadi hampir ada di setiap sudut. Namun kalau tidak selektif, dan suka melahap makanan yang tidak sehat, akan memancing sumber penyakit. Hati-hati mengkonsumsi makanan, bila ingin menyayangi tubuh.

Ketiga, melakukan aktivitas yang bermanfaat untuk kesehatan mental. Dengan menjaga mental, maka kondisi otak akan terjaga. Kegiatan mental diptimalkan untuk keseimbangan dengan gerakan fisik.