Pesona Ka’bah

Jum’at Berkah

Dzulhijjah, sebagian orang menyebut sebagai bulan haji. Orang jawa memberi nama “sasi besar”. Bulan pungkasan dari nama bulan pada sistim kalender hijriyah. Pada bulan ini, di suatu daerah tertentu, sebut saja sebagian Sumatra dan Madura, merupakan kesempatan untuk bersilaturahmi secara besar-besaran. Sanak saudara berkumpul layaknya orang Jawa merayakan Idul Fitri.

Secara naluri, banyak orang-orang yang merasakan bahwa di bulan dzulhijjah merupakan getaran puncak keimanan. Gelombang ketauhidan terasa sampai ke ujung syaraf. Mereka yang diberi kesempatan untuk menunaikan rukun Islam yang kelima tidak menyia-nyiakan waktunya untuk selalu dekat dengan ka’bah. Mengagungkan asma-Nya tanpa jeda. Bagi yang belum diberi keleluasaan berhaji, cukup dengan menancapkan tonggak kegiatan penyembelihan hewan qurban sebagai simbol ketaqwaan kepada-Nya. Allah memberi waktu yang lebih untuk menggemakan takbir di hari tasyrik. Takbir saling berkelindan ibarat jeritan seseorang yang rindu menggemakan kalimat tauhid sambil mengelilingi ka’bah, apalagi mencium hajar aswad. Ritual haji serasa tak terperi kenikmatannya. Jiwa dan raganya luruh dengan untaian tasbih.

Awalnya Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail diperintah membangun ka’bah untuk melindungi hajar aswad. Batu yang berasal dari surga. Setelah bangunan selesai, beliau berdua mengajarkan tata cara bertauhid kepada umatnya. Sehingga ka’bah menjadi simbol pemersatu, sekaligus tempat untuk memuja sang khalik.

Setelah beliau berdua wafat, keadaan ka’bah diberlakukan sesuai dengan penguasa setempat. Sampai akhirnya kepada Nabi Muhammad SAW. Disinilah Rasulullah mulai membangun peradaban. Saat Rasulullah menyerukan bagaimana seorang manusia menjadi hamba-Nya, pada saat itu pula (mereka) memperlakukan ka’bah sesuka hati. Bahkan menjadikan museum yang menampung patung untuk sesembahan. Pelan tapi pasti, meskipun harus dibayar dengan nyawa, ka’bah berfungsi seperti semula, yaitu ikon persatuan umat Islam.

Atribut apapun, datang dari manapun, pakaian tetap putih. Orang berdatangan dari manapun dengan berbagai macam Bahasa dan dialeknya, saat melakukan thawaf bahasa yang diucapkan tetap sama, mengagungkan asma Allah. Persaannya menggumpal jadi satu, meraih keridlaan Allah.

Bangunan kubus yang telah menjadi ciri dan selalu menjadi dambaan, semakin lama semakin dicintai. Bukan saja bagi umat Nabi Muhammad, tapi juga musuh-musuh beliau. Rasa ingin memiliki begitu kuat, sehingga tidak kurang Raja Abrahah dan Abu Thahir bernafsu merebut ka’bah. Mereka mengincar ka’bah bangunan bangunan fisiknya, tetapi pengaruhnya. Ka’bah sebagai ujud kiblat bagi umat Islam, semakin banyak dikunjungi. Mereka datang bukan untuk wisata, tetapi mereka rela meninggalkan kesenangannya hanya untuk pasrah kepadaNya.