Produksivitas Akal (1)

Jum’at Berkah

“sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (At-Tin: 4)

Diantara semua makhluk, hanya manusia yang diberi nalar. Karena Allah sendiri yang memilih manusia menjadi khalifah di bumi, maka Allahpun memberi akal, agar kehidupan di di bumi tertata dengan baik, sesuai dengan harapanNya. Allahpun memberi segalanya untuk kehidupan manusia. Kebutuhan sandang, papan dan pangan. Manusia tinggal mengelola yang disesuaikan dengan kebutuhan.

Karena perjalanan manusia mengalami perkembangan, dan kebutuhan juga berkembang, maka timbul masalah. Kian hari, kian banyak. Masalah tersebut perlu dipecahkan. Dalam hal ini, akal memegang peranan yang penting dalam memecahkan masalah tersebut. Akal dapat membedakan mana skala prioritas. Problem yang besar dan mendesak yang harus diuraikan terlebih dahulu. Akal juga dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Tetapi tidak semua akal datang semua menjadi beres.

Disisi lain, kita harus sadar bahwa akal juga memilik kelemahan. Imam Syafi’i berujar bahwa “Akal itu punya batas yang tidak mungkin dia lapaui, Sebagaimana mata juga punya batas yang tidak mampu dia lapaui”. Akal itu dapat baik dan dapat juga buruk. Sehingga apapun yang diproduksi oleh akal dapat menhasilkan barang yang baik ataupun buruk. Di antara produk dari akal adalah pemikiran, budaya, aturan, barang untuk kebutuhan, yang semua merupakan produk akal, dan pasti ada kelebihan dan kekurangannya.

Bagaimana cara mengukur bahwa hasil produksi akal itu baik atau buruk, bermanfaat atau mendatangkan madharat? Adakah alat ukurnya?

Termometer adalah alat untuk mengukur suhu suatu benda. Bila suhu badan mencapai 37 derajad, maka direkomendasikan oleh Kesehatan supata istirahat atau berobat. Bila minuman mencapai tahap higienis, maka suhu air harus mendidih dan mencapai seratus derajad. Pembuatan termometer tentu tidak sekali jadi. Alat tersebut telah diuji coba beberapa kali, sehingga mencapai kevalidan. Ukurannya sudah dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.

Bahkan hal-hal yang bersifat psikologis, seperti orang marah, gembira, stress, sudah ditemukan alat ukurnya. Bagaimana cara mengukur yang bukan mekanik ataupun psikologis? Misalnya seperti keyakinan? (bersambung)