Produksivitas Akal (2)

Jum’at Berkah

“Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.” (Al-Baqarah: 147)

Alat ukur keyakinan adalah wahyu, yaitu firman Allah dan hadits-hadits Nabi Muhammad SAW. Sebab wahyu lebih tinggi dari akal. Kita harus berkeyakinan bahwa wahyu akan menuntun akal. Perilaku Rasulullah atau akhlak Nabi yang harus diikuti, disusul kemudian mengelola akal.

Salah satu produksi akal yang cukup tinggi adalah budaya. Kebudayaan merupakan hasil dari penciptaan akal budi manusia. Kebudayaan berkaitan dengan budi dan akal manusia. Ini dapat meliputi pandangan hidup, sikap nilai, moral atau akhlak, tujuan dan adat atau kebiasaan. Dari sini kita harus memahami, bahwa budaya ini bisa benar dan bisa salah. Bisa baik dan bisa buruk.

Karena itu, Islam datang ke dunia ini bukan untuk menghancurkan budaya. Islam diturunkan ke bumi ini bukan untuk menghapus budaya. Akan tetapi Islam datang untuk membimbing budaya agar dia menjadi budaya yang beradab. Budaya yang berkemajuan. Budaya yang mengangkat derajat kemanusiaan.

Kebudayaan yang selaras dengan Islam, misalnya gotong royong. Kegiatan yang saling menopang satu sama lain ini merupakan kebiasaan orang timur. Mereka menemukan kerja bakti ini karena falsafah hidup, bahwa manusia tidak mungkin hidup sendiri. Manusia membutuhkan uluran orang lain agar dapat mempertahankan eksistensinya.

Berarti budaya gotong royong atau kerja bakti ini sejalan dengan ajaran Islam. Namun Islam menyempurnakannya. Sehingga redaksinya menjadi tolong-menolonglah, gotong-royonglah dalam kebaikan. Dalam hal-hal yang membawa kemanfaatan bersama. Bukan gotong-royong dan tolong-menolong dalam kejahatan.

Akal merupakan anugerah paling utama yang diberikan Allah swt kepada manusia. Akal juga dapat berfungsi menyampaikan pesan kebenaran sekaligus pembukti serta pembeda yang hak dan yang batil. Walaupun akal dapat digunakan untuk merenungi dan memahami aspek kehidupan, namun al-Qur’an telah menegaskan bahwa akal tidaklah bisa berdiri sendiri.

Akal tetap sangat membutuhkan wahyu (al-Qur’an dan al-Hadits) sebagai piranti untuk membimbing dan mengarahkan fungsinya. Akal ibarat mata. Mata memiliki potensi untuk melihat suatu benda, namun tanpa cahaya mata tidak dapat melihat apa-apa.