Propaganda

Setiap akan melaksanakan perhelatan akbar, pelaksana akan melakukan propaganda. Dapat dengan cara undangan, pengumuman, ataupun desakan. Propaganda itu pekerjaannya komunikasi. Secara ilmiah propaganda adalah penerangan atau paham, pendapat dan lain-lain. Tujuannya untuk meyakinkan orang lain agar mengikuti apa yang dikehendaki.

Paus Gregorius XV, pada tahun 1622 menyelenggarakan Kongregasi untuk penyebaran Iman di kota Roma. Kegiatannya mengatur gereja agar berfungsi sebagiamana mestinya. Untuk melaksanakan upaya tersebut, Paus Urbanus VIII melakukan propaganda, yaitu mengoptimalkan kinerja para Kardinal. Propaganda ini cukup terhormat, karena dipandang untuk meluruskan ajaran gereja.

Dalam perjalanan kata propaganda dikonotasikan sesuatu yang buruk, tidak jujur, egois atau subversive. Apalagi menggiring sejumlah manusia untuk melakukan sesuatu agar sang propagandis mengambil keuntungan sesaat. Telah kita ketahui bersama, bahwa dalam kerajaan penuh dengan intrik. Mengambil kekuasaan secara terang-terangan ataupun tersembungi. Tidak heran, karena propaganda, seorang raja dapat bertahan lama. Sebaliknya, karena propaganda pula, penguasa tidak bertahan. Bahkan dapat pula melahirkan revolusi.

Untuk masa sekarang, propaganda sudah menjadi idiom sehari-hari. Kehidupan yang semakin pragmatis. Semua dipolitisir untuk menciptakan kepentingan sesaat. Bahkan seorang propagandis menggunakan penelitian ilmiah untuk menciptakan informasi demi kepentingannya. Hasilnya, dapat benar atau salah.