Revolusi Berfikir

Betapa seringnya kita jadi sial, hanya karena terlalu sederhana dalam berpikir. Tidak mampu lagi memilah mana masalah yang perlu serius diselesaikan dengan segera, dengan hal-hal sepele namun dipandang seperti rumit. Negara kita nampak kelihatan wajah dan geliat aksinya, karena dahulu ada pemikir besar. Sebelum Indonesia diwisuda menjadi negara yang merdeka, sudah bercokol kerajaan Majapahit dan Sriwijaya dengan karakter dan ragam yang tidak sama. Koneksi dengan bangsa lain sudah  menunjukkan kiprah yang tak hening. Dinasti kedua kerajaan tidak pernah kering mengucurkan orang-orang yang mampu berpikir besar. Proses seleksi untuk memperoleh pengakuan masyarakat demikian amat ketat. Kompetensi dihidup suburkan, pengakuan terhadap sebuah karya dihargai. Mereka sadar, tanpa pemikiran yang besar, banyak hal yang tidak menjadi eksis lagi. Itu membawa implikasi bahwa tak ada tempat bagi pemikiran yang kecil dan sederhana. Bahwa semua yang sulit, njlimet itu sebenarnya bisa dibuat sederhana dan mudah, tanpa diiringi dengan memudahkan masalah.

Ketokohan mereka akan selalu diingat karena korelasinya yang nyata terhadap alam pemikiran dan tingkah laku manusia yang lain. Tolak ukurnya disini adalah bukanlah baik atau buruk karakter orang itu, bukan pula besar kekuasaan yang diembannya, namun yang menjadi standarnya adalah dampaknya terhadap kemanusiaan. Sebagian akan dikenang manusia karena cita-cita pemikirannya yang jauh melebihi persepsi manusia pada masanya. Menumpulnya pikiran lebih banyak diakibatkan karena bukan pada saat komputer mulai berpikir seperti manusia, tetapi ketika manusia mulai berpikir seperti komputer

Tunggu apalagi? Bukankah berfikir besar telah kita benamkan sejak kecil? Manakala orang lain menanyakan cita-citamu. Dengan lihanya kamu akan menjawab : pengen jadi dokter, pilot, tentara dll. Bila itu yang jadi realita, bukankah sekarang tinggal mewujudkan aja? Stephen Cohen berujar : “Kalau Anda menginginkan perubahan yang kecil dalam hidup, garaplah perilaku Anda. Namun kalau Anda menginginkan perubahan-perubahan yang besar dan mendasar, garaplah paradigma Anda”

Sydney Harris : ancaman nyata sebenarnya bukan pada saat komputer mulai berpikir seperti manusia, tetapi ketika manusia mulai berpikir seperti komputer