Revolusi Berfikir

Stephen Cohen pernah berujar : “Kalau Anda menginginkan perubahan yang kecil dalam hidup, garaplah perilaku Anda. Namun kalau Anda menginginkan perubahan-perubahan yang besar dan mendasar, garaplah paradigma Anda”

Betapa seringnya kita jadi sial, hanya karena terlalu sederhana dalam berpikir. Tidak mampu lagi memilah mana masalah yang perlu serius diselesaikan dengan segera, dibandingkan hal-hal sepele namun dipandang seperti rumit. Jemari tangan kita demikian lihai memainkan scroll di gadget, karena tergoda dengan instant reward yang ditawarkan oleh layar smartphone. Bandingkan dengan menyelesaikan tugas yang memang seharusnya diselesaikan dengan penuh ketekunan dan rasa tanggung jawab.

Sebelum Indonesia menjelma menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), tampak demikian gagah dan bersemangat, karena dahulu ada pemikir besar. Dua pemerintahan adi daya, yaitu Majapahit dan Sriwijaya. Mereka menjadi rujukan dalam masalah pemerintahan, perdagangan, dinamika sosial dari kerajaan-kerajaan sekeliling.

Dinasti kedua kerajaan tidak pernah kering mengucurkan orang-orang yang mampu berpikir besar. Proses seleksi untuk memperoleh pengakuan masyarakat demikian amat ketat. Kompetensi dihidup suburkan, pengakuan terhadap sebuah karya dihargai. Mereka sadar, tanpa pemikiran yang besar, banyak hal yang tidak menjadi eksis lagi. Itu membawa implikasi bahwa tak ada tempat bagi pemikiran yang kecil dan sederhana

Embrio lahirnya Indonesia, juga disebabkan salah satunya karena para founding father memiliki pemikiran yang besar. Mereka melakukan revolusi berfikir agar Indonesia bukan saja terbebas dari colonial, tapi tegak kokoh berdiri diantara bangsa lain. Ketokohan mereka akan selalu diingat karena korelasinya yang nyata terhadap alam pemikiran dan tingkah laku manusia yang lain. Tolak ukurnya disini adalah bukanlah baik atau buruk karakter orang itu, bukan pula besar kekuasaan yang diembannya, namun yang menjadi standarnya adalah dampaknya terhadap kehidupan kemanusiaan.

Tunggu apalagi? Bukankah berfikir besar telah kita benamkan sejak kecil? Manakala orang lain menanyakan cita-citamu. Dengan lihanya kamu akan menjawab : jadi dokter, pilot, tentara dan lain-lain. Bila itu yang jadi realita, bukankah sekarang tinggal mewujudkan saja? Namun Sydney Harris mengingatkan : “ancaman nyata sebenarnya bukan pada saat komputer mulai berpikir seperti manusia, tetapi ketika manusia mulai berpikir seperti komputer.”