Rokok

Suatu kali, saya pernah dicurhati dengan rekan sekerja. Sebenarnya dia bosan duduk berlama-lama didepan komputer. Bukan permasalahan pekerjaan yang selalu membelit, bukan karena imbalan yang diterima nyaris tak memenuhi harapan, tetapi ia jenuh dengan kepulan asap rokok yang setiap saat melumuri ruang kerjanya. Lantas sayapun cuma tersenyum saja. Saya tidak bisa menghimbau apalagi melarang sahabat saya yang merokok.

Rokok yang terselip dibibir akan bermakna multi ganda. Ia adalah sebuah sumber inspirasi dalam menggapai angan-angan, itu kata seniman atau yang mau merintis menjadi seniman. Rokok pulalah yang menjadi simbol kejantanan, itu kata orang yang belum berkeluarga.  Sebatang rokok memiliki arti tanda sahabat karib, itu kata orang yang biasanya suka minta rokok.  Sebatang rokok pulalah yang bisa diartikan sebagai simbol sosial, itu kata orang yang tidak pernah berkumpul dengan masyarakat.

Sejak tembakau ditemukan kemanfaatanya, ia menjanjikan finansial yang besar. VOC bersusah payah menyeberangi samudra, hanya akan mendapatkan seuntai daun tembakau. Petani akan diakui secara sosial kemasyarakatan, bila ia lihai menanam tembakau, mengolah sampai kepada menjual. Ada yang ditawarkan dalam bentuk lembaran dedaunan, ada yang dijual dalam bentau tembakau rajangan, namun tak sedikit menjual dalam bentuk sebatang rokok. Tembakau menjadi komoditi yang menjanjikan.

Persoalannya adalah, tidak semua orang menerima kehadiran rokok. Namun banyak pula yang telah akrab dengan kepulan asap rokok, sekalipun perempuan. Sebagian kecil, malah menjadi konsumen. Didaerah tertentu, merokok bahkan merupakan bagian dari ritual. Karena diyakini bahwa kepulan asap rokok akan membumbung tinggi keangkasa membawa doa, dan berharap doa akan diterima oleh (yang diyakini) mengatur kehidupan.

Terlepas dari senang atau tidak, yang jelas bahwa di beberapa daerah (seperti DKI) telah menerapkan peraturan melarang merokom di daerah publik atau tempat umum. Segera akan menyusul DI Yogyakarta. Sebagaimana sebuah peraturan dikeluarkan, ujungnya akan menuai pro-kontra. Yang pro akan senang karena dia tak akan lagi menjadi perokok pasif di daerah umum. Yang kontra akan  merasa kecut karena privatisasi dalam menikmati merokok, terenggut.

Fatwa larangan merokok bukanlah senjata yang ampuh untuk mengerem laju perokok. Publikasi anti merokokpun seakan sia-sia belaka dalam mengingatkan akan bahaya merokok. Dokter, perawat dan penggiat anti merokok seakan telah kehilangan kamus, kata-kata sudah tak bermakna lagi manakala menasehati seorang pasien agar supaya berhenti merokok.

Apakah pemerintah punya nyali untuk melarang petani menanam tembakau? Beranikah pemerintah untuk menutup pabrik rokok?

Saat ini, di sekolahku telah mendahulu peraturan pemerintah, yaitu dengan dikeluarkannya larangan merokok di lingkungan sekolah. Aturan ini ternyata (seperti biasa) disambut dengan optimis dan pesimis. Kepulan asap rokok tak lagi menghias ruangan. Asbak tak lagi tergeletak disembarang tempat, puntung rokok tak lagi sebagai penghias sampah.