Sakaratul Maut (1)

Ramadhan 1443 H – Hari Keenam

“Barang siapa di akhir perkataannya mengucapkan Laa Ilahaa Illallah (Tiada Tuhan selain Allah), maka akan masuk surga.” (H.R. Abu Dawud dan Al Hakim)

Setiap makhluk yang bernyawa pasti akan merasakan kematian, termasuk manusia. Artinya, setiap manusia memiliki masanya yang telah ditakdirkan masing-masing dalam Lauh Mahfudz. Sebab itu, takdir kematian tersebut tidak akan mengenal usia muda taupun tua, tidak pula mengenal jenis kelamin.

Karena kematian itu merupakan sesuatu yang sudah ditetapkan Allah semua makhluk yang bernafas yang penting bagi kita adalah mengantisipasi. Bagaimana supaya pada saat ajal menjemput kita menjumpai dalam keadaan khusnul khotimah. Tidak merasakan seperti yang dirasakan orang yang mendustakan agama.

Di masyarakat kita sering menyaksikan orang yang tengah menghadapi kematian yang disebut dengan sakaratul maut. Ada yang nampak begitu mudah, tenang, terkesan tiada beban. Sebaliknya, tidak sedikit kita jumpai begitu menakutkan. Mata melotot, tangan menggapai-gapai sambil mencengkeram,  mulut seolah-olah mau berteriak, dan posisi kaki tidak dapat diam, seperti orang yang tengah bergulat melawan musuhnya.

Ada pula seseorang yang akan meninggal menjelang sakaratul maut, memanggil seseorang. Padahal yang dipanggil sudah meninggal. Atau kadang kala berteriak ketakutan, karena melihat makhluk aneh yang menyeramkan, menghampirinya. Perasaan semacam itu ada yang mengatakan halusinasi.

Menurut Al qurtubi dalam At Tadzkirah, demikian juga al Ghazali menyebutkan dalam kitabnya Kasyfu ‘Ulumil Akhirah, mengatakan bahwa itu akibat setan yang memang datang membujuk manusia agar meninggal dalam keadaan su’ul khatimah (meninggal dalam keadaan tidak baik). Ini banyak dibuktikan dalam masyarakat. Saat orang yang akan meninggal ditalqin, yaitu dituntun untuk mengucapkan Laa Ilaaha Illah, dia justru menolak, bahkan marah-marah. Itulah yang kita sebut kena bujukan setan.

Husain bin ‘Audah Al ‘Awayisyah dalam kitabnya Madza Ba’dal Maut  mengatakan bahwa setan, sangat bersemangat untuk mendekati seseorang yang sedang mendekati ajalnya. Harapannya, agar orang tersebut mengakhiri hidupnnya dengan keburukan, kafasikan, dan kemaksiatan. Dia bujuk dengan berbagai cara, namun kalau sudah berhasil, dia lepas tangan. (Bersambung)