Simpul-simpul Kesuksesan

Jum’at Berkah

Kalau ada orang yang mengatakan bahwa kesuksesan adalah hasil perolehan akhir yang berujud benda duniawi, tidaklah salah. Ada juga yang bilang bahwa kesuksesan adalah kebahagiaan, pun tidak keliru. Tradisi masyarakat Jawa mengatakan bahwa kesuksesan mencakup 5 hal, yaitu garwo (istri), pusaka, wisma (rumah), turangga (kendaraan), dan kukilo (waktu luang).

Seorang lelaki tidak dapat disebut perkasa bila belum memiliki istri. Makin cantik istrinya, maka si pria mendapat julukan orang yang tangguh. Kalau jaman dulu, semakin banyak mengoleksi senjata (keris, rencong atau lainnya) sebagai harta pusaka, maka orang itu makin senang. Semakin lebar tanahnya, semakin lebar dan tinggi rumahnya, maka orang itu makin bahagia. Koleksi kendaraan (turangga) semakin banyak, dikatakan semakin kaya. Dan semakin memiliki banyak waktu luang dengan memanfaatkan kepemilikannya, maka orang itu makin sukses. Demikian pandangan orang Jawa.

Apakah memang seperti itu yang dikatakan sukses?

Thomas Szaz, seorang psikiater, memberikan penuturan bahwa kesuksesan atau kebahagiaan itu adalah imajinatif. Ia tidak memiliki batas-batas secara bendawi. Kebahagiaan itu sangat pribadi. Kata bahagia dan kebahagiaan berasal dari kata Latin beatus dan beatitude (Inggris) yang berarti tantangan dan perolehan, yakni menjanjikan memberikan (secara tak langsung) kebahagiaan sejati kepada orang yang menyambut tantangan dan selangkah demi selangkah memperoleh sesuatu, mencapai sesuatu, atau menyelesaikan sesuatu.

Kesuksesan itu sangat private. Kesuksesan adalah kepuasan batin atau kebahagiaan karena pencapaian tujuan-tujuan tertentu dalam tahap-tahap kehidupan. Sukses sejati berarti memiliki untuk dapat memberi, memiliki untuk dapat belajar menerobos kemapanan, belajar untuk bersyukur dan menebarkan cinta kasih, belajar untuk bertumbuh dan berkembang.

Sebagi orang yang mempercayai Dzat pencipta semesta alam, ukuran kesuksesan adalah, pertama Takwa. Dari titik ini, manusia harus merenung dari mana ia berasal, dan menuju kemana manusia akan berakhir. Takwa menjawab segalanya. Kedua, Mencari rizki secukupnya. Manusia yang mengetahui dari mana ia berasal, ia akan sadar, bahwa masih ada makhluk lain yang memiliki hak yang sama untuk hidup di dunia ini. Ketiga¸ bersyukur. Yakinlah terhadap apa yang telah ditetapkan Allah. Sebab ada orang yang hidupnya cukup tetapi tidak puas dang apa yang ia peroleh. Mereka gelisah sepanjang waktu, mengeluh tentang ketetapan Allah. Sibuk meminta tambahan. Demikianlah ciri orang yang miskin hati dan jiwa.