SMP Negeri 1 Wonosobo (1)

Kelas enam SD akhir, adalah saat kami siap-siap untuk memasuki jenjang sekolah yang lebih tinggi. Saya sudah dapat menerka siapa yang akan lanjut sekolah, berhenti, atau merantau mencari rizki untuk masa tua dan sedikit membantu orang tua. Atau menunggu beberapa tahun, karena sudah ada yang melamar. Menurut beberapa orang tua, menyekolah putra putrinya hanyalah sekedar agar pemanis agar anaknya bermain dengan tetangga. Pendidikan kala itu belum menjadi prioritas keluarga. 

Saya dan beberapa teman yang akan melanjutkan sekolah tidak begitu menghiraukan akan menapakkan kaki di SMP, ST, Tsanawiyah atau pondok. Nasib anak masih dalam genggaman orang tua. Namun, harus kuakui bahwa apabila berhasil masuk di SMP Negeri 1 Wonosobo adalah cita-cita dan harapan. Keinginan yang berlapis-lapis terakumulasi dari mimpi-mimpi yang terus menghantui. Mimpi memakai sepatu. Mimpi memakai dasi. Mimpi memakai tas baru. Anehnya, saya tidak pernah bermimpi jalan bersama anak perempuan kota.   

Akhirnya waktu yang ditunggu tiba. Pengumuman hasil seleksi masuk SMP Negeri 1 Wonosobo tertera. Saya masuk di dalamnya, bersama dengan Gandhi Hartono (anaknya pintar banget, selalu juara satu), Asna Budiwati atau sering dipanggil Atik, juga pandai, kemudian Mufasir. Saya yang tergolong tidak pandai ikut terdampar masuk di sekolah favorit, kata orang se kabupaten Wonosobo. Tidak selamanya gelombang laut yang besar merugikan manusia. Sampah yang ada di laut terbawa gelombang dan terlempar di bibir pantai. Berkah bagi pemulung. Kira-kira begitulah saya, diibaratkan sebuah sampah yang terpungut orang untuk dimanfaatkan.  

Mahmud Uzair dari Madrasah Ibtidaiyah Ma’arif. Marfuah dari Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah. Mereka berdua baru bergabung dengan kami yang dari SD Negeri 1 Kalibeber setelah sama-sama diterima di SMP N 1 Wonosobo.  

Senin pagi, tanggal dan bulan lupa, di tahun juga lupa (karena waktu itu pertama kali masuk sekolah di bulan Januari). Saya masih menyiram jalan, karena musim kemarau selalu menyisakan debu. Tanah yang ringan seperti anai-anai ini akan menempel di dinding dan melekat di kaca. Dust in the Wind. Tiba-tiba baru ingat bahwa pagi itu saya harus berangkat kesekolah di kota untuk pertama kalinya. Menuju sekolah yang baru. Meski udara dingin menggelayuti tubuh, tapi hati tetap senang karena masih bujang.  

Transportasinya masih menggunakan kendaraan oplet dan colt. Mobil oplet hasil lemparan dari jurusan lain yang sudah tidak laku. Tapi kalau jurusan Kalibeber tetap laku. Orang Kalibeber memang nrimonan (kata Adam Smith bukan komunitas konsumen) 

Saat memasuki pintu gerbang, saya diberitahu oleh Idam Hawaiji, kakak kelas, dan menunjuk seseorang. Itulah bu Darno. Ibu yang mengampu pelajaran sejarah ini sudah terkenal meski kami masih di SD. Informasi kami dengar lewat kakak kelas, dan sedikit mengintimidasi tentang “keangkeran” bu Darno. Cerita yang sampai ke telinga, bahwa pertama kali masuk ke kelas, beliau selalu membuka pertanyaan Apa itu sejarah? sambil menatap semua siswa. Terlihat semua mata siswa tidak tidak berani beradu dengan tatapan bu Darno. Diam mematung sambal deg-degan. Setelah tidak ada yang menjawab, beliau sendiri yang menjawab bahwa sejarah itu bukan tempe kemul.  

Harus diakui, bahwa SMP Negeri 1 Wonosobo saat itu, tanpa Bu Darno, Pak Slamet, mungkin kita tidak akan mencapai keberhasilan seperti yang dirasakan saat ini. Kontribusi beliau dalam mendidik, sangat mahal harganya. Salam takzim buat beliau.  

Begitu memasuki pintu depan, saya takjub. Ternyata gedungnya susun. Saya sudah membayangkan, semoga saya dapat kelas yang di atas. Saya terkesima dengan gedung yang akan dipakai kelas satu. Begitu kaki melangkah ke memasuki halaman, ternyata hanya gundukan tanah. Baru sadar bahwa kemampuan mata untuk melihat dengan jelas, hanya separo sepelemparan batu.  

Saya kebagian di kelas 1D, bersama Indra, Heri, Turnomo, Yatin, Asngari, Nugroho, Danang (anake lurah), Wawan, Irur Rocker, Jatmiko (Tikun), Utik, Alfia, Budi Haswari, Estiningtyas, Herlina, Dwi Astuti, Siti Zumaroh, Nina, Kendro, Farid, Adi Setiarso, Suswardani alm, Prahani, Sri Taufik, Yuliah, Eko (anak polisi), Endang Lis, Dwi Pratiwi, Hartini, Joko, Widagdo, Itu yang saya ingat. Wali kelasnya ibu Th Suratmi yang mengajar Bahasa Inggris, istrinya pak Salyo. Rumahnya di bilangan stasiun.  

Lonceng istirahat pertama berbunyi sebagai tanda berburu makanan. Saya bersama Uzair dan Mufasir bingung. Warungnya dimana. Kami sepakat untuk keluar dari area sekolah. Begitu sampai di depan pintu, distop oleh seorang guru. Ternyata bu Darno. Bayangan saya, saat itu pasti dimarahi. Sudah gemetar. Ternyata beliau menunjukkan bahwa kalau mau ke warung ada di belakang. Plong, slamet…. Slamet… (bersambung)