SMP Negeri 1 Wonosobo (2)

Kalibeber masih seperti yang saya rasakan sehari-hari. Hembusan angin di pagi hari berusaha menelusup menembus tulang. Tapi kulit kami telah diajarkan sejak kecil bahwa angin harus menjadi sahabat, sebagaimana air dan gemerisiknya rerumputan. Setiap pagi, angin setia melewati perkampungan kami. Angin yang tahu diri, sopan, tidak tranyakan. Angin yang dapat membaca rambu-rambu “Hati-hati, banyak anak-anak”. Mungkin malu, karena harus melewati pondoknya KH Muntaha. Atau takut berurusan dengan rumah penjaga stanplat di perempatan Kalibeber, keluarga Ikhlas Katamsi. 

Angin adalah sinyal, bahwa kapan saya harus siap-siap berangkat, dan kapan harus naik oplet. Hari kedua, masuk sekolah suasana belum berubah. Saya masih dolan dengan Uzair dan Mufasir. Ada perasaan ragu-ragu menyapa teman sekelas. Beruntung, semua siswa membuat papan nama dari kertas yang dibuat segitiga. Saya berusaha keras menghafal jati diri teman-teman. Termasuk yang putri. Dari sekian nama, yang pertama kali kuhafal adalah Indra. Selanjutnya anak keturunan Padang ini menjadi teman sebangku. Pihak putri yang pertama kali saya ingat dan terpatri sampai sekarang adalah Utik. Meski terlihat pendiam, tapi sebenarnya periang. Aneh memang.  

Untuk menuju ke sekolah, sebenarnya jaraknya hanya sekitar 5 km. Tapi mengapa transportasinya kurang lancar, bila dibandingkan Garung dan Kertek. Mungkin tidak ada jurusan berikutnya selain berhenti hanya di Kalibeber. Saat itu, sebenarnya saya pingin sekali memiliki sepeda. Ingin rasanya menikmati mengayuh bersama. Apalagi, mulai dari perempatan penjara atau SMP Bhakti Mulya sampai perempatan SMA N 1, jalannya turun.  

Teman-teman yang membawa sepeda yang masih kuingat, Irur, phoenix biru. Indra, phoenix merah, Pujo, Beni dan Endro, kompak Pit Mini. Parkir berjajar di sebelah utaranya ruang guru, atau belakangnya meja dagang Pak Surat. Timurnya ruang guru adalah ruang gamelan, yang tidak pernah berbunyi. Saya hanya masuk sekali disana, terlihat alatnya sudah karaten. Kalau dipukul no 2 terdengar bunyi no 5.  

Sejak saya menjadi salah satu siswa di Kota Wonosobo, maka logat bicaranya sedikit berubah. Demikian juga intonasi dan dialeknya. Walaupun jarak desa kami dengan kota tidak seberapa jauh, intonasinya tidak sama, demikian juga logatnya. Padahal kalau diperhatikan dengan desa-desa di sekitar Wonosobo dengan radius yang sama, mereka mengucapkannya hampir sama. Apakah desa kami memang tidak begitu familier dengan perkotaan? Saya kurang tahu.  

Dipulangkan 

Setiap anak SMPN 1 yang gaya bicaranya sambat atau mengeluh, pasti punya momok. Entah itu dengan bu Darno, pelajaran yang tidak disukai, dibully teman, atau menyukai teman tapi tidak direken. Cinta bertepuk sebelah tangan. Menulis hasrat hati yang dituangkan dalam bentuk surat, dan dikirim lewat buku, memang sedang model. Termasuk teman-teman di kelas 1D. Adapun saya sendiri momoknya adalah piket pagi hari. 

Dari hari senin sampai sabtu, menurut saya yang kelabu hanya hari kamis. Karena saya piket dihari kamis, bareng dengan Endang Li, Dwi Sukendra. Suatu hari, saya datang terlambat dimana bu Darno sudah mulai keliling dan membawa buku. Saya mlipir lewat sebelah kiri kelas (dekat dengan bengkel), agar dapat menyusup. Tadinya aman-aman saja. Saya tetap melaksanakan piket. Akhirnya tetap ketahuan juga. Jam pertama kala itu pelajaran Bahasa Inggris, yang mengajar wali kelasnya sendiri. Tiba-tiba bu Darno muncul. 

“Mana yang namanya Katamso” seraya memanggil 

“Saya bu” sambil angkat angkat jari
“Ayo pulang” terlihat wajahnya mengerucut 

Saya bergegas menuju pintu. Saya melihat wajah teman-teman terlihat ikut takut. Cuma satu yang mungkin agak girang.  

Itulah pengalaman pertama saya dipulangkan. Meninggalkan sekolah, sayapun berjalan menyusuri trotoar. Tempat pertama kali yang saya tuju sebagai pelampiasan adalah Gedung bioskop Dieng Theatre. Cuma melihat gambar. Tempatnya masih yang lama. Karena di tempat itu pula ada terminal. Saya bebas saja jalan-jalan karena hari kamis seragamnya juga bebas. Jadi orang tidak akan dapat menerka dari sekolah mana. Tanpa pikir panjang, saya ikut colt jurusan Garung. Turun di pemandian air hangat Kalianget. Disini saya harus berlama-lama, agar nanti pulangnya siang. Diusahakan bareng dengan bel pulang sekolah. Sebenarnya bisa saja langsung lewat Munggang. Tapi saya harus menunggu sampai siang. Jadi harus jalan-jalan sambil menenteng tas warna putih. Piket pagi memang menjadi momok bagi saya. Datang setelah jam setengah tujuh bakal balik kanan. Beruntung yang rumahnya kota. Jarang ada yang terlambat. Kecuali yang terlambat itu dilindungi sama teman-temannya. Ada yang seperti itu.  

Pengalaman kedua dipulangkan, karena tidak seragam. Waktu itu hari jum’at. Seragam pramuka. Tapi saya memakai celana warna biru. Sebenarnya sudah masuk jam terakhir, tapi saya terpaksa harus ke WC. Saat mau kembali ke kelas, ketahuan sama sama bu Darno. Sebelum masuk kelas sebenarnya saya sudah dikode Wawan lewat jendela, agar jangan masuk dulu. Bu Darno sudah menunggu di kelas. Begitu masuk, saya tidak ditanya mengapa tidak seragam. Padahal kalau ditanya, saya punya alasan yang kuat. Tapi jari telunjuk beliau sudah memberi kode supaya saya harus pulang. Sayapun bergegas ke terminal, karena hari jum’at. Begitu masuk colt, ternyata telah berkumpul sedulur dari Batur. Mereka mau mengungsi ke Kalibeber, karena peristiwa Sinila.  

Hanya satu anak yang benar-benar berani dengan bu Darno. Kelas 1F, namanya lupa. Tapi teman akrabnya Danang. Suatu ketika, entah karena apa, terjadi seperti adu mulut. Tiba-tiba anak itu menyikut Bu Darno. Hampir semua anak keluar dari kelas dan melihat peristiwa itu. Sudah dapat diduga anak itu disuruh pulang. Esok harinya, tidak muncul lagi. Mungkin dikeluarkan.  

Class Meeting 

Sekitar jam 11.00, saya melihat Pak Solatin sedang menulis nama-nama yang mengikuti Class Meeting. Tiap kelas diambil delapan anak, dengan rincian empat putra dan empat putri. Kelas 1D yang terpilih : Heri, Indra, Yatin dan saya. Sedangkap putrinya: Prahani, Alfia, Budi Haswari, Herlina. Sistim Class Meeting saat itu bukan per kelas. Tapi perkelas paralel. Yang kuingat, cabang yang dilombakan adalah Volly dan Sepak Bola. Untuk sepak bola memakai sistim lain. Jadi kelas 1 kalau melawan kelas 2 skor awal adalah 2-0. Sama seperti kelas 2 kalau melawan kelas 3. Entah pertimbangan apa, yang menjadikan saya terjaring mewakili kelas 1D. Cukup bangga juga mewakili kelas. Saya terpilih apakah karena kekuatannya? Atau kekekarannya? Atau ketrampilannya berolah raga? (bersambung)