SMP Negeri 1 Wonosobo (3)

Pertemanan

Ternyata tidak mudah untuk memperoleh teman yang akrab. Mampu memberi solusi. Telah berhari-hari masuk sekolah, telah mengetahui identitas diri teman, dilanjutkan dengan dari mana domisili, famili, sampai dengan tetangga yang kebetulan masih ada hubungan dengan keluarga. Anak yang tidak PD, seperti saya, yang berasal dari desa, tentu berteman dengan dari desa. Masih ada kegamangan bila berkarib dengan anak kota.

Dalam pergaulan sehari-hari saya barusaha mengepakkan sayapnya. Saya tetap berusaha berkenalan dengan anak kota atau anak yang lain. Mengapa? Karena saya sangat perlu bergaul dengan anak kota. Agar tidak kagol terhadap yang berbau modern. Saya juga harus menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Untuk menjadi bagian dari orang kota, tentu citranya berubah. Dibanding dengan desa kami, citra kekotaannya lebih menonjol. Pembicaraanpun berbeda. Saat di desa, obrolan kami sekitar kehidupan desa, klenik, dan lain-lain. Begitu menghirup udara kota, pembicaraannya jadi berbeda. Setidaknya, warna musiknya juga harus menyesuaikan. Keseharian yang kami dengar tentu musik samroh atau dang dut atau musik tradisional enbleg atau gambus. Begitu masuk kota, saya pertama kali mengenal Beatless, Deep Purple, Rolling Stones dan musik cadas lainnya.

Awal masuk kelas, wali kelas sudah memberi rambu-rambu apa saja yang diperkenankan, dan rupa-rupa larangan, sampai dengan mengatur menata tempat duduk. Saya sendiri, sejak awal telah dipasangkan dengan Indra Rustiadi. Namun lama juga klik-nya. Hingga akhirnya, ternyata klop menjadi teman sebangku. Dalam perjalanan, Indra mampu menjadi leader dalam persoalan olah raga di kelas.

Kelas 1D, pernah membeli seragam kaos warna kuning, di toko dekat “bruk menceng”. Inisiatornya Indra dan Heri. Kelasku juga pertama kali mengadakan sepak bola persahabatan dengan kelas lain. Hasilnya tidak mengecewakan. Disini, Indra mengatur teman-teman yang kebetulan rumahnya di desa, untuk tidak pulang. Makan siang ditanggung oleh teman-teman kota. Saya masih ingat kebagian makan di rumahnya Eko.

Pertemanan ini termasuk juga yang bersinggungan dengan cewek. Katanya, sudah masanya menegenal lebih dalam terhadap lawan jenis. Suka terhadap lawan jenis, sangat wajar. Demen dengan sesama jenis, blaikk… Ada catatan kecil di kelasku yang sempat saya rekam. Wawan termasuk yang pemberani. Dulu, diisukan sempat dekat dengan Suswardani. Benar tidaknya Wallahua’lam. Namun ada juga teman yang tidak kesampaian. Cintanya ditolak. Tentang cinta ditolak ini, saya tidak berani bercerita lebih lanjut. Saya juga yakin kalau di kelas lain, pasti mengalami cerita yang sama. Baik dengan sesama kelas maupun beda kelas.

Kelas Sore

Ketenaran SMPN 1 Wonosobo, memang telah melegenda. Sejak jaman kakak-kakak, dan mungkin hingga kini. Tidak sedikit, anak-anak kita juga disekolahkan di SMPN 1. Demikian kondangnya, sehingga ada desakan dari masyarakat agar menyelenggarakan sekolah sore. Akhirnya dengan jiwa pengabdian yang luar biasa dari Bapak dan Ibu guru SMPN 1 Wonosobo, dibukalah kelas sore. Saya tidak begitu mengamati kelas sore, meskipun dalam seminggu, dua hari sampai sore untuk mengikuti ekstra kurikuler. Info ini mestinya dari teman-teman yang mengalami langsung sekolah sore.

Beruntung ada teman yang mau berbagi meskipun hanya secuil. Arif (Garung) Namanya. Tapi saya mengikuti panggilan seperti Budi Suryantoro ataupun Edi, panggilannya Owek. Ciri khasnya, rambut langka tapi keriting. Ciri khas lain, silahkan teman-teman dapat menuturkan. Hobi sepak bola. Mainnya selalu di belakang. Pemain idolanya Enthon (Klesman). Beliau dulu kelas 1H dengan wali kelasnya Bapak Tukiran, dan ketua kelasnya Fahrudin. Dia hanya mau bercerita tidak enaknya. Pertama, setiap ada kegiatan ekstra kurikuler, teman-teman yang masuk sore hanya jadi penonton. Mau ikut tidak berani. Namun setidaknya, SMPN 1 telah mengajarkan bagaimana menjadi penonton yang baik.

Pengalaman lain yang dibagikan, pulang sekolah sering jam Sembilan malam. Karena tidak mendapatkan tempat duduk colt terakhir. Sehingga harus menunggu yang pulangnya malam. Biasanya yang baru saja nonton film jam di bioskop. Tentang pulang malam saya juga sudah dua atau tiga kali merasakan, karena pulang kegiatan ekstra terlalu sore. Tapi kalau saya ikut colt jurusan Garung, turun di Munggang.

Ekstra Kurikuler

Saya hanya mengikuti ekstra kurikuler dua jenis, yaitu pramuka (wajib) dan Karate Do Indonesia tapi singkatannya KKI. Saya tidak tahu mengapa disingkat KKI. Coba kalau dibuat Persatuan Karate Indonesia, singkatannya malah menjadi runyam. Di KKI ini, saya mengikuti ajakan Indra. Waktu itu Ia telah memperoleh sabuk biru. Setelah mengikuti beberapa latihan, saya tetap saja pemilik sabuk putih. Tapi alhamdulillah artinya suci.

Di KKI, kami pernah dibohongi oleh pelatih. Suatu ketika, pelatih memerintahkan kami untuk latihan lari di hari minggu pagi. Pelatih bilang, kita akan menjemput dua pelatih dari Semarang. Besok kita lari menuju Kertek, disana akan kita sambut mereka. Di hari yang ditentukan tiba, dari SMPN1 lari kecil-kecil menuju Kertek. Baru sampai makam pahlawan, ternyata yang dikatakan pelatih dari Semarang sudah muncul. Namun yang saya lihat, pelatih dari semarang tidak berkeringat sama sekali. Mereka masih bugar.

Pramuka

Di pramuka, saya termasuk terlambat untuk mengikuti kegiatan ini. Dulu, ada kebijakan kewajiban untuk mengikuti pramuka. Namun demikian saya dan teman-teman sempat membuat regu, namanya Bangau. Anggota reguku yang sempat terekam: Didik, Triyono, Eko Cilik. Semua anggota reguku tidak mahir dalam kepramukaan. Jadi Cuma ikut-ikutan. Regu yang benar-benar pramuka adalah Cendrawasih dibawah komando Jarek. Orangnya mumpuni, kepemimpinannya amanah. Anggota Cendrawasih antara lain: Beni, Atong, Teguh (Bapake dokter hewan), Joko Hartoyo, Indra Rustiadi, Aji Wibowo, Tek Wi, Edi Nugroho alm, Heru Purwito, Bambang Purwoko alm, Rudy Armoko (dulu regu Elang),  Dwi Priyono. Pasangan regu Cendrawasih adalah Raflesia dengan punggawanya Uun Mukaromah. Anggota yang lain: Aminah, Dyah Arulita, Budi Haswari, Saptarina, Rina, lainnya lupa. Sedangkan regu Teratai komandannya Danny Puji Pratiwi, anggota: Utik, Herlina, Farida, Estiningtyas, Endang Lis, Siti Zumaroh, Susana, Laksmi Prahani, Nina, Sutarni dan lain-lain. Dua regu ini termasuk yang diandalkan oleh Kabupaten Wonosobo. Pernah juga mereka camping di Cibubur, lewat Jambore Nasional.

Namun demikian, kami sempat mengikuti tiga kali perkemahan. Pertama perkemahan sabtu malam minggu “persami” di halaman SMPN1 utara. Di persami, kami tidak memiliki kenangan yang berarti. Boleh dikatakan hanya ikut-ikutan saja, karena sebuah kewajiban. Kedua, di Selokromo yang katanya sempat ada peristiwa heboh. Saya tahu berita ini, malah dari kakak kelas. Bagimana ceritanya? Teman-teman yang tahu persis. Terutama regunya Jarek yang saat itu menjadi Pembina.

Kenangan yang lebih

Ketiga, perkemahan di Guntur Madu. Saya berani menyebutnya “Perkemahan Horor”. Pada saat berangkat, kami merasa senang. Karena jalan yang ditempuh naik turun, berkelok. Kanan kiri masih tumbuhan pepohonan yang lebat. Lebih pas kalau disebut hutan. Rombongan demikian senang. Suasana desa yang kental kekerabatannya. Bagi yang tidak pernah jalan, akan merasak kesusahan, terutama putri. Apalagi barang bawaan cukup berat. Tak pelak, peserta tampak keletihan.

Hari pertama belum ada gelagat. Namun yang mencolok adalah pertunjukan emblek (jatilan) di tengah lapangan. Kebetulan di dekat lapangan ada makam. Masih kebayang kan… kuburan saat itu. Kami tidak tahu kalau pertunjukan itu sebenarnya untuk menghibur penghuni ghaib, agar malamnya tidak mengganggu kegiatan kepramukaan. Namun begitu tetap saja ada yang bertumbangan. Jarek dan Atong menang banyak. (bersambung)