Stoitisme: Penawar Dahaga

Gatal juga untuk menulis tentang filsafat. Sebuah aliran pengetahuan yang sebenarnya saya juga suka. Dulu, memang getol membeli buku filsafat. Tapi dari sekian banyak buku, tak ada kalimat yang menempel di otak.

Belum lama saya membeli buku “Filosofi Teras”, buah karya Hendry Manamparing. Mata saya tertuju pada buku ini, diantara hamparan buku lainnya. Dari sekian sekte buku, rupanya ini yang menyita perhatian. Sudah lama, buku-buku filsafat (popular) tersaji di sebuah lapak buku.

Apakah stoisisme itu?

Stoisisme didasarkan pada ide bahwa tujuan hidup adalah hidup selaras dengan alam. Alam itu sendiri didefinisikan sebagai keseluruhan kosmos, termasuk rekan-rekan kita sesama manusia. Wikipedia menulis bahwa Stoitisme adalah mazhab filsafat Yunani-Romawi yang didirikan oleh Zeno dari Citium.

Siapakah Zeno?

Zeno adalah seorang pedagang kaya dari Siprus (sebuah pulau di Selatan Turki). Suatu saat Ia melakukan perjalanan dari Phoenica ke Pieraeus dengan kapal laut melintasi laut Mediteranica. Malang tak dapat ditolak. Kapal yang ditumpangi karam. Ia tak hanya kehilangan seluruh barang dagangannya, tapi juga terdampar di Athena. Karena harta yang dibawa musnah,ia pun luntang-luntung di kota yang bukan rumahnya.

Suatu hari, ia pergi mengunjungi sebuah toko buku dan menemukan sebuah buku filsafat yang menarik hatinya. Dari toko buku tersebut, ia bertemu dengan Creates. Seorang filosof juga yang berasal dari Cynic. Zenopun belajar filsafat dari berbagai aliran. Ia sendiripun mengajar filsafat di teras berpilar (dalam Bahasa Yunani disebut Stoa). Sejak itu, para pengikutnya disebut “kaum Stoa”.

Apa tujuan mempelajari filsafat Stoa?

Stoitisme tidak mengajarkan untuk mendapatkan hal-hal yang bersifat eksternal, seperti : sukses karir, disayang orang lain, memperoleh kepuasan karena karya. Stoitisme menggiring agar bersikap untuk kepuasan diri sendiri.

Tujuan yang hendak dicapai dari mempelajarai Stoitisme antara lain :

Hidup bebas dari emosi negative (sedir, marah, cemburu, curigadan lain-lain. Tujuannya adalah mendapatkan hidup tenteram. Ketentraman ini hanya bisa diperoleh dengan memfokuskan diri pada hal-hal yang dapat dikendalikan.

Hidup mengasah kebajikan. Ada empat macam menurut kajian Stoitisme :

Kebijaksanaan (Wisdom), yaitu kemampuan mengambil keputusan terbaik di dalam situasi apa pun

Keadilan (Justice) adalah memperlakukan orang lain dengan adil dan jujur.

Keberanian (Courage), yaitu keberanian untuk berbuat benar, berani berpegang prinsip yang benar.

Menahan diri (Temperance) yaitu disiplin, kesederhanaan, kepantasan, dan mampu mengontrol emosi.

Dalam semua itu, apa yang diingatkan para filsuf itu kepada kita adalah hidup selaras dengan alam berarti menyadari bahwa orang paling sulit yang kita temui bisa jadi sama seperti kita—seseorang mungkin sedang berjuang melawan kesedihan dan kenestapaannya sendiri.

Dengan menyadari ini, akan lebih mudah untuk memaafkan mereka yang tidak sejalan dengan kita. Namun lebih dari itu, barangkali, ini memudahkan kita untuk lebih pemaaf terhadap diri sendiri. Ini membantu kita memahami soal penderitaan dan tentang makna menjadi manusia.