Syaitan (1)

Jum’at Berkah

“Aku lebih baik daripada Adam. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan Adam Engkau ciptakan dari tanah.” (al A’raf [7]: 12)

Syaitan berasal dari kata syatana yang berarti jauh. Diberi julukan jauh karena jauh dari rahmat Allah. Syaitan yang kemudian diserap oleh Bahasa Indonesia menjadi setan. Mereka termasuk golongan yang mengingkari nikmat Allah. Padahal sebelumnya dia adalah penghuni surga di antara hamba-hamba Allah SWT. Ada pula yang mengatakan bahwa setan berasal dari kata syatha artinya yang melakukan kebatilan atau terbakar.

Setan merupakan salah satu makhluk Allah SWT yang diciptakan berbeda, karena berasal dari api. Lantas mengapa makhluk ini dinamai setan? “Setan adalah sifat untuk menyebut setiap makhluk yang jahat, pembangkang, tidak taat, suka membelot, suka maksiat, suka melawan aturan, atau semacamnya. Dalam tafsir Ibnu Katsir, setan adalah segala sesuatu yang menyimpang dari tabiatnya berupa kejahatan, baik dilakukan dari jenis manusia maupun jin,”

Al qur’an, memberi informasi yang sangat gamblang tentang perseteruan antara manusia dengan setan. Pertarungan dua makhluk yang mewakili kebaikan dan keburukan. Perangai dua sifat yang saling bertolak belakang, memberi ittibar (pelajaran) bagi umat yang pandai mengambil hikmahnya.

Sangat jelas bagaimana Adam dan setan saling berkompetisi. Sang khalik memberi peluang kepada semua makhluk untuk menjawab pertanyaan-Nya. Hasilnya, Adam yang unggul dan setan tidak mengakui. Bahkan setan menentangnya. Sangat jelas pula, bagaimana Nabi Ibrahim melindas godaan setan, saat akan menyembelih putranya, yaitu Ismail. Bagaimana pula Nabi Muhammad memberi gambaran yang sangat jelas tentang sosok setan.

Setan menipu dirinya sendiri

Ada dua kejadian yang menyebabkan setan terjebak pada perilaku menipu dirinya sendiri. Pertama, tatkala semua makhluk diperintah Allah supaya bersujud kepada Adam. Andai setan, pada saat itu, mengikuti perintah Allah, maka sebenarnya kebahagiaan, kemuliaan dan keselamatan akan didapatkan karena menuruti perintah Allah. Namun peluang ini tidak diambil. Bahkan menentang kehendak Allah.

Kedua, kedengkian. Setelah semua makhluk diuji oleh Allah, ternyata Adam terpilih paling pandai. Sehingga semua makhluk diperintahkan bersujug kepadanya. Adam memperoleh tempat yang terhormat. Setan memiliki sifat superioritas, karena merasa bahwa Api lebih tinggi derajatnya dibanding tanah.

Setan merasa jumawa (angkuh, sombong, congkak) terhadap Adam, sehingga kata yang keluar “Ana khairan minhu” (Aku lebih baik dari dirinya). Di dalam diri setan itu sebenarnya menyatu sifat kebodohan, kezaliman, kedurhakaan serta menentang dengan akal sehat, serta menipu dirinya sendiri.

Bilamana setan itu sudah tertipu oleh dirinya sendiri, lalu bagaimana mungkin sampai ada manusia yang berakal, mau mendengar dan menerima serta menuruti kehendak setan?

Sumber bacaan : Ighatsatul Lahfan, karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah

Leave a Reply

Your email address will not be published.