Tafsir Al Misbah

Belajar Agama itu harus langsung dengan ulama’, dengan ahlinya. Belajar Agama itu harus sepanjang hayat. Tidak boleh berhenti, meski fisik sudah lemah. Karena Agam itu dinamis. Tidak stagnan atau mandek. Setiap masa ada problematikanya tersendiri. Agama harus mampu menjawab fluktuasi zaman.

Saya belajar Agama sejak usia dini. Dukungan masyarakat untuk hidup beragama sesuai perintah Nabi Muhammad saw sangat memungkinkan. Komunitas-komunitas yang terbentuk dari masyarakatpun begitu kental. Satu dengan lainnya saling menguatkan.

Hari ini saya berhasil meraih cita-cita saya, yaitu memiliki buku tafsir al Qur’an secara lengkap. Keinginan ini sebenarnya sudah lama, namun baru terwujud tahun ini. Memang sabar menunggu ditengah himpitan kebutuhan yang harus dipenuhi terlebih dahulu. Tafsir al Misbah karya cendekiawan Muslim sekaligus ulama’ Prof. Dr. M. Quraish Shihab. Pakar tafsir al Qur’an.

Buku-buku lain karya beliau telah saya miliki meski tidak banyak. Saya hanya memiliki  modal, ingin sekali mengoleksi buku karyanya. Buku tersebut masih tersimpan dengan rapi. Warna buku telah berubah, gak apa-apa. Masih dapat dibaca dengan jelas. Bahkan coretan-coretan dalam buku tersebut dapat menambah wawasan.

Saya sebenarnya juga ingin sekali meneruskan kebiasaan Ayah saya, yaitu mengumpulkan buku Tafsir al Qur’an, al Azhar karya Prof. Dr. Hamka. Namun, cita-cita ini kandas, setelah saya harus hidup mandiri, dan jauh dari keluarga.

Saya juga pernah mencoba untuk mengumpulkan buku buku Tafsir al Maraghi karya Ahmad Mustafa Ibn Musthafa Ibn Muhammad Ibn Abd al-Mun’im al-Qadhi al-Maraghi. Seorang pakar ilmu Balaghah dan Kebudayaan. Puncak karier beliau menjadi Rektor di Universitas al Azhar, Kairo, Mesir.

Dari pengalaman mengumpulkan buku-buku tersebut, berujung pada sebuah kesimpulan, bahwa mengumpulkan buku tafsir ataupun buku yang berjilid lainnya harus tahan uji. Harus tahan godaan. Harus punya itikan yang sangat kuat. Jangan lupa harus punya target, pada suatu waktu harus terpenuhi. Tanpa itu semua, seperti pepesan kosong belaka.

Ada sebuah kiat, bila kebutuhan primer telah terpenuhi, berjanjilah untuk segera memiliki buku yang diidamkan. Bolehlah kebutuhan yang tidak begitu mendesak sedikit digeser, agar angan-angannya tercapai.