Takdir (1)

Ramadhan 1443 H – Hari Kelimabelas

“Allah telah menetapkan takdir untuk setiap makhluk sejak lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.” (HR Muslim)

Setiap manusia memiliki takdirnya sendiri. Satu dengan yang lain berbeda-beda. Pendapat ini masih menjadi kepercayaan di sebagian masyarakat. Dalam dunia karakter yang sedang dikembangkan, pendapat yang mengatakan takdir sudah menjadi suratan namanya fixed. Tidak dapat diubah. Mandeg, tak ada jalan keluar. Apakah lantas kita sebagai manusia menerima takdir sepenuhnya? Sebagai orang yang beriman tentu akan menolak adigium demikian. Karena kita percaya benar bahwa segala sesuatu ada dalam keputusan sang khalik.

Takdir, bahkan telah menghinggapi sejak zaman dahulu. Masalah takdir menjadi misteri bagi manusia. Ada yang menganggap bahwa takdir adalah misteri tapi juga menjadi ketakutan. Masyarakat purba menerima takdir sebagai suratan nasib yang tidak mungkin dihindari. Betapapun manusia melawannya. Keyakinan ini tergambarkan dalam kisah Oedipus Rex (Raja Oedipus) karya Sophocles. Seorang seniman dan sekaligus dramawan yang hidup pada masa abad ke-5 sebelum masehi.

Dalam tragedi itu dikisahkan bahwa Oedipus, semasa muda, mendengar ramalan dari seorang oracle (dukun Yunani kuno), bahwa dia akan membunuh ayahnya dan mengawini ibunya sendiri. Untuk menghindari takdir itu, Oedipus pergi meninggalkan kedua orang tua dan mengembara. Namun langkahnya justru mendekati alur takdir yang telah digariskan oleh dewa. Di tengah perjalanan, ia terlibat dalam sebuah kejadian dan membunuh seorang tua pengendara kereta. Usut punya usut ternyata orang yang dibunuh itu adalah ayahnya sendiri.

Di suatu waktu, Oedipus mengikuti sebuah sayembara yang diselenggarakan oleh kerajaan. Dalam sayambara tersebut, dia menang dan berhak memperoleh hadiah tahta dan permaisuri. Ternyata, bahwa permaisurinya adalah ibunya sendiri. Seorang janda yang melahirkan dirinya sendiri. Pada akhirnya terungkap bahwa kedua orang tuanya yang membesarkannya selama ini hanyalah orang tua angkat, bukan ayah dan ibunya sendiri. Dengan rasa putus asa, dihadapan keluarga besarnya, ia memutuskan untuk menghukum dsirinya sendiri dengan cara mencopot kedua biji matanya sendiri, dan pergi meninggalkan istana.

Pandangan manusia tentang takdir memang berbeda satu dengan lainnya. Dunia barat berasumsi bahwa takdir adalah suratan nasib yang tidak dapat dihindari lagi, mereka sering menyebut determinisme. Belakangan Deterinisme berkembang menjadi sebuah aliran filsafat yang mengatakan bahwa sebuah peristiwa sebagai akibat dari adanya beberapa keharusan yang tidak terelakkan lagi.

Dalam sejarah Islam, kepercayaan serupa juga pernah muncul dengan sebutan Jabariyah. Tuhan tidak hanya telah menentukan garis perjalanan hidup manusia, melainkan juga kehendak dan perbuatannya. (bersambung……)

Bahan bacaan : Bulletin al Tanwir No. 68, 9 – 23 Desember 1995