Takdir (2)

Ramadhan 1443 H – Harikeenambelas

Takdir dalam Pandangan Jabariyah dan Qadariyah

Manusia tidak memiliki kebebasan dalam menentukan kehendak tapi berada dalam paksaan (jabr) Tuhan. Pengembangannya, manusia tidak dapat dituntut pertanggungan-jawab atas perbuatannya. Sebab semua adalah kehendak Tuhan.

Jabariyah yang berasal dari kata jabara  mengandung arti memaksa dan harus melakukan sesuatu. Sehingga menurut aliran jabariyah manusia hanya melakukan apa yang telah ditentukan oleh Allah. Perbuatan manusia telah tertulis dalam qadha’ dan qadhar. Faham jabariyah diperkenalkan pertama kali oleh Ja’d bin Dirham, dan disebarkan oleh Jahm bin Shafwan dari Khurasan.

Benih aliran ini muncul karena ada sebuah peristiwa yang dialami oleh Nabi Muhammad saw saat menjumpai sahabatnya yang sedang bertengkar dalam takdir tuhan. Agar terhindar dari kekeliruannya, Nabi melarang untuk berdebat dalam masalah itu.

Aliran jabariyah pertama kali diperkenalkan oleh Abi Sufyan, raja pertama dalam Dinasti Umayah (40 – 132 H). Namun setelah dikaji secara mendalam, pepatah bahwa takdir sudah ketentuan Sang Pencipta, merupakan tindakan politis untuk melanggengkan dinasti.

Pertama kali Abi Sufyan naik tahta, yang diucapkan kepada rakyatnya adalah apa yang telah dilakukannya kehendak Allah. Selanjutnya, pandangan ini merata di kalangan penguasa Bani Umayah.

Cara-cara yang digunakan oleh penguasa mendapat kritik dari pemimpin masyarakat yang bertanggung jawab memelihara kesucian aqidah dan moral Islam. Antara lain Imam Hasan al Bashri dari Bashrah. Ada pula yang berpendapat bahwa yang pertama kali memperkenalkan Qadariyah adalah Ma’bad al Jauhani dan Ghilan Al Dimasyqi.

Latar belakang munculnya aliran qadariyah adalah sebagai sebuah isyarat, di mana para penganut paham ini menentang kebijakan politik yang saat itu diterapkan oleh Bani Umayyah, karena dianggap kejam. Ketika Bani Umayah memimpin dengan cara-cara yang licik, dan mengandalkan semua karena takdir, maka Qadariyah mendefinisikan qadar. Bahwa Allah bersikap adil. Allah akan menghukum orang-orang yang bersalah serta memberi ganjaran kepada orang yang berbuat kebaikan.

Qadariyah memberi ruang kepada manusia untuk bebas menentukan kehendak dan melaksanakan perbuatannya.

Kedua aliran di atas, mengklaim bahwa ajarannya berpijak pada al Qur’an. Dalam kenyataannya, apabila ayat tersebut dibaca dan dipahami secara terpisah memang terlihat dualisme. Oleh karenanya, agar tidak terjadi sengketa, kita buka lagi wawasan lebih luas lagi.

Meskipun Allah yang menyesatkan dan memberi petunjuk kepada siapapun, tapi yang Dia lakukan bukan semena-mena. Karena pada dasarnya Allah telah memberi hidayah (petunjuk) kepada semua manusia tanpa pandang bulu. Diterima ataupun tidak tergantung pada manusianya sendiri.

Bahan bacaan : Bulletin al Tanwir No. 68, 9 – 23 Desember 1995