Tasawuf (1)

Jum’at Berkah

Upaya menyucikan hati atau membersihkan hati dari gangguan perasaan, seraya melepaskan hawa nafsu pribadi, dan semata-mata hanya mengharap ridha dari Allah adalah aktivitas tasawuf atau berlaku sufi. Tasawuf atau yang dikenal juga sebagai sufisme merupakan suatu ajaran tentang bagaimana menyucikan jiwa, menjernihkan akhlak, serta membangun dhahir dan batin untuk memperoleh kebahagian abadi.

Istilah sufi dan tasawuf telah dikenal sejak zaman jahiliah dan awal datangnya Islam. Namun mereka belum menamakan diri sebagai orang sufi ataupun tasawuf. Perilaku mereka meniru nabi-nabi sebelum Rasulullah. Khususnya Nabi Ibrahim. Mereka mengasingkan diri dari kebisingan dunia dan ingin dekat dengan sang khalik.

Ada pula yang berpendapat bahwa istilah sufi atau tasawuf baru dikenal pada akhir abad kedua Hijriah. Pendapat kelompok ini berdasarkan runtutan penyebutan orang yang pernah bersama Rasulullah dan sesudahnya. Sahabat adalah julukan kepada orang-orang yang hidup bersama Rasulullah. Generasi setelah sahabat adalah tabi’in. Sedangkan keturunannya mendapat julukan tabi’in-tabi’in.

Orang yang hidup setelah tabi’in-tabi’in, mereka diberi gelar Zahid. Dari istilah ini maka muncullah kata sufi dan tasawauf. Kata tasawuf berasal dari berbagai macam kata. Ada yang mengatakan shuffah yang berarti orang-orang terpilih. Ada yang menggunakan kata shaf artinya barisan atau deretan. Ada yang menyebut shafa yang bermakna bersih atau jernih. Serta ada yang berpendapat shuf yang berarti bulu domba.

Tujuan bertasawuf adalah membantu seseorang untuk tetap berada di jalan Allah, yang kemudian orang tersebut menjadi tidak berlebihan dalam hal duniawi, serta tetap fokus pada iman dan takwa yang ia miliki.

Said Agil Siroj, dalam bukunya “Tasawuf sebagai Kritik Sosial” berpandangan bahwa Islam terdiri dari tiga bagian. Yaitu, aqidah, syariah dan tasawuf. Banyak kalangan berpendapat bahwa Islam terdiri dari tiga bagian, yaitu aqidah, ibadah atau mu’amalah dan akhlak. Dua bagian yang pertama tampak sama. Bagian ketiga, menurut beliau, tasawuf lebih mendalam dari akhlak. Namun tetap sama-sama antara akhlak dan tasawuf, yaitu menjadikan manusia untuk menghamba hanya kepada Allah. (bersambung)