Tasawuf (2)

Jum’at Berkah

Mengapa KH Said Agil Siroj, mempertahankan istilah tasawuf bila dibandingkan dengan akhlak? Berangkat dari sabda Rasul “Bukankah aku diutus, kecuali untuk menyempurnakan akhlak yang luhur”. Tasawuf sebenarnya bukan hanya sekedar etika, melainkan juga estetika (keindahan). Tasawuf tak sekedar bicara soal baik buruk, namun juga sesuatu yang indah, karena terkait dengan jiwa, ruh dan nurani.

Tasawuf tidak hanya membangun dunia yang bermoral, tapi juga sebuah dunia yang indah dan penuh makna. Tasawuf juga tidak hanya berusaha menciptakan manusia yang hidup dengan benar, rajin beribadah, berakhlakul karimah, tapi juga merasakan indahnya hidup dan nikmatnya beribadah.

Hamka, dalam bukunya “Taswuf Modern” menawarkan bahwa seorang sufi harus menempatkan Tuhan dalam skala tauhid. Artinya, Tuhan Yang Maha Esa dalam posisi transenden atau istimewa (berada di luar dan di atas terpisah dari makhluk) tetapi sekaligus terasa dekat dalam hati (qalb). Pengertian ini merupakan gabungan antara konsep keakidahan (ilmu kalam) dan konsep “ihsan” menurut Rasulullah SAW. Dengan demikian Tuhan tidak ditempatkan “terlalu jauh” tetapi juga tidak “terlalu dekat”.

Keberhasilan seseorang dalam menyerap dan mempraktekkan tasawuf dapat dilihat dari etos, kepedulian, kepekaan sosial yang tinggi, yang didorong dari oleh kesalehan menjalankan Islam. Salah satu jalan tasawuf adalah kefakiran. Maksudnya, memiliki sedikit mungkin barang-barang duniawi untuk mencapai keselamatan. Artinya, bukan semata-mata kekurangan dalam hal kekayaan, tetapi tidak punya hasrat memperoleh kenikmatan dunia, bila hatinya kosong. Apakah lantas seorang sufi atau tasawuf tidak boleh kaya?

Hamka berpendapat bahwa orang kaya adalah orang yang sedikit kemauannya dan seorang yang banyak keperluan dan keinginan itu adalah orang miskin. Kekayaan yang hakiki adalah mencukupkan yang ada, dan siap menerima, karena itu adalah nikmat Allah. Sebaliknya, tidak akan merasa kecewa bila jumlahnya berkurang. Karena memiliki, sesungguhnya untuk meneguhkan hati.

Orang yang telah menjadi sufi atau tasawuf bukan berarti mengurung diri, asyik dengan dunianya sendiri. Menjadi seorang tasawuf justru rela berbagi. Justru dengan sikapnya itu ia memiliki kewajiban membuat dunia ini indah. Ia merasa yakin, bahwa yang diberikan kepada orang lain adalah milikNya, dan Ia merasa mantap bahwa apa yang diperolehnya lebih dari cukup.