Jum’at Berkah

“Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin untuk menambah keimanan mereka (yang telah ada). Dan milik Allahlah bala tentara langit dan bumi, dan Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.” (al-Fath: 4).

Pada saat panik, orang dapat berbuat apa saja. Asal selamat, asal aman. Termasuk sekarang ini, saat pandemi covid-19 belum reda. Menenangkan diri dan juga keluarga tampaknya masih belum menghasilkan yang diinginkan, karena covid-19 ini termasuk penyakit baru. Di kalangan medispun masih bersilang pendapat. Mereka belum mendapatkan patokan yang pasti.

Tenang bukan berarti lamban, tetapi berpikir jernih dan mendalam. Tidak ceroboh, yang ujung-ujungnya membahayakan diri sendiri, terlebih orang lain. Sikap tenang akan membuat kita mudah menerima nasihat, memperhatikan imbauan, dan mengikuti aturan. Takinlah bahwa segala sesuatu pasti ada jalan keluarnya. “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS al-Insyirah: 6).

Secara naluri, manusia itu akan memuji sikap tenang dan akan mencela sikap tergesa-gesa. Fitrah ini akan muncul dikarenakan dalam kehati-hatian terdapat keselamatan dan pada ketergesa-gesaan terdapat penyesalan. Dalam ajaran Islam kita mengenal dua istilah yang memiliki kemiripan namun berbeda secara makna dan akibat yang terjadi darinya, kedua istilah itu adalah al-Mubadara (bergegas atau bersegera) dan al-Ajalah (tergesa-gesa).

Dengan ketenangan yang Allah berikan, seorang mukmin akan selalu siap dan optimistis menghadapi kehidupan. Sebaliknya, Sikap al-Ajalah (tergesah-gesah) karena semua bentuk dan ketergesahan itu datangnya dari setan. Sikap al-Ajalah ini terjadi karena sempitnya berpikir dan cara pandang yang salah, berniat mengerjakan sesuatu ingin dengan cepat tanpa perhitungan akibat apa yang akan terjadi setelahnya.

Ketenangan hanya bisa didapatkan dengan keimanan kepada Allah. Sumbernya adalah ketetapan hati. Ketenangan yang Allah berikan muncul saat hamba-Nya berhadapan dengan rasa takut dan cemas sehingga dia tidak akan merasa terganggu atau bersedih hati. Justru keyakinan dan keimanannya akan semakin bertambah kuat dan kukuh.

Saat hati dalam kondisi tenang, maka lisan, pikiran, dan anggota badan yang lain pun akan tenang. Itu membuat seseorang senantiasa berpikir positif dan mengedepankan kemaslahatan serta mampu mengambil keputusan yang lebih baik.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *