The Story of Tomorrow

Pembaca yang pernah melihat film Grafity, sudah memiliki gambaran untuk teknologi di masa depan. Film ini menceriterakan tentang kehidupan di luar angkasa. Saat bumi sudah penuh dengan permasalahan lingkungan hidup, teknolog menatap masa depan, yaitu mencari kemungkinan kehidupan di luar angkasa.

Lain lagi dengan film Snowpiercer. Tontonan yang sangat menarik, karena menyuguhkan cerita tentang bumi yang mengalami penurunan suhu sangat ekstrim. Bumipun berubah menjadi hamparan es. Tak ada kehidupan kecuali sebuah kereta yang terus bergerak. Kendaraan yang berjalan diatas rel secara kebetulan dihuni salah satu ilmuan. Dari tangan ilmuan itulah, kereta terus melaju dan menciptakan teta kehidupan baru di dalam gerbong.

Film-film jenis seperti ini, digolongkan dalam genre film sci-fi (fiksi ilmiah). Penggemar, selalu menunggu kehadirannya. Meneropong masa depan dengan dasar data atau fakta yang nyata, buka seperti ahli nujum. Berbagai macam teknologi yang lebih mengedepankan khayalan kehidupan di masa depan. Tak jarang, penonton rela antri untuk melihat film tersebut.

Masa depan, tidak ada seorangpun yang dapat memprediksi dengan pasti, karena zaman selalu menjelma dengan cepat. Teknologi telah mampu memporak-porandakan prakiraan diluar nalar manusia. Hari kemarin, kita mendengar penemuan baru tentang teknologi. Hari ini hasil karya tersebut tidak disebut modern lagi, karena ditemukan teknologi yang lebih canggih.

Dunia telah memasuki era baru, yang dinamakan disrupsi. Orang yang berkecimpung dalam dunia teknologi, tak lagi mengubah bentuk, ukuran, atau desain, namun integral atau menyeluruh, yang meliputi metode, cara kerja, system. Persaingan tidak lagi antar competitor melainkan teman sendiripun dapat menjadi pesaing. Tadinya mustahil, sekarang berujud nyata.

Perubahan ini terjadi secara masal dan global. Tidak hanya terjadi di perkotaan, namun menimpa juga di pelosok desa. Teknologi Informasi (TI) sudah dalam genggaman. Perangkat pendukung, telah tersedia. Tidak ada alasan untuk meletakkan kembali gadget, dan balik kanan meninggalkan TI bila kita akan tetap eksis.

Kita ukir panorama masa depan dengan menjadi manusia pembelajar. Kita tuang tinta untuk menulis masa depan demi kegemilangan peradaban. Kita tulis cerita-cerita masa depan agar manusia lebih humanis.