Usya binti Faqudz

Ramadhan 1443 H – Hari Keduapuluhsatu

“…. Padahal istriku adalah seorang yang mandul …” (Maryam : 8)

Nabi Zakaria AS adalah salah satu Nabi yang diutus Allah untuk kaum Bani Israil. Sayangnya, bertahun-tahun beliau berdakwah hanya segelintir yang mau mengikuti ajarannya. Bani Israil pada umumnya tidak mau mengikuti, dan selalu menghalangi Nabi Zakaria menyampaikan risalahnya. Mereka enggan untuk tunduk pada aturan Allah. Sebaliknya mereka gemar pada kehidupan dunia dengan berbuat dhalim.

Salah satu umat Nabi Zakaria yang sedikit itu bernama Usya binti Faqudz. Beliau ini saudara dari Hanah binti Faqudz, yang merupakan nenek dari Nabi Isa AS. Pada akhirnya Nabi Zakaria memutuskan untuk menikahi Usya. Seorang gadis dari Bani Israil, dengan harapan sedikit demi sedikit dapat membantu meringankan dakwahnya. Ternyata, harapannya melesat. Bani Israil semakin menikmati kehidupan menurut kemauan mereka, tanpa peduli dengan nasehat Zakaria.

Karena lemahnya iman kaum Bani Israil, maka Zakaria merasa khawatir akan kelangsungan kehidupan risalah yang dibawa. Dalam benaknya, ia bertanya siapa yang akan meneruskan, dan mengobarkan kalimat tauhid. Maka, Ia berdoa kepada Allah SWT agar diberi keturunan untuk meneruskan amanahnya. Namun, Usya tak kunjung hamil. Hingga memasuki masa menopause, belum juga ada tanda-tanda kehamilan.

Sebagai seorang istri yang shalih, Ia tetap mendorong suaminya agar tetap menegakkan apa yang diperintahkan Allah. Ia tetap membesarkan hati suaminya, bahwa suatu ketika Allah pasti akan mengabulkan. Hanya menunggu waktu dan kesabaran. Namun, ditunggu sekian lama, belum juga ada tanda-tanda Usya berbadan dua. Zakariapun tak putus memohon doa agar diberi keturunan untuk meneruskan risalah Allah.

Dalam sebuah perjalanan waktu, Zakaria diberi isyarat oleh Allah bahwa tiga hari tiga malam, ia tidak dapat berbicara dengan siapapun. Usya tetap mendampingi suami dengan penuh kesabaran dan harapan. Setiap orang yang bertanya kepada Zakaria, maka seketika jawabannya, Ia selalu menulis di tanah.

Akhirnya doa Zakaria dikabulkan oleh Allah. Saat lahir diberi nama Yahya. Dalam mengasuh Yahya, seorang ibu mencurahkan segala kemampuan untuk kehidupan anak lebih baik. Usya tidak bosan-bosannya mengajarkan kepada Yahya tentang pentingnya Tauhid. Menyembah hanya kepada Allah. Doa yang tulus selalu dijawab oleh. Allah mengabulkan melebihi dari apa yang diharapkan oleh Zakaria. Di Usia tiga tahun, Yahya telah mampu membaca Taurat. Dan kelak Yahya diangkat oleh Allah menjadi Nabi.

Kesabaran Nabi Zakaria dan Usya membuahkan hasil. Meski Zakaria telah berumur 120 tahun dan Usya berumur 98 tahun, namun bila Allah sudah berkehendak, maka semuanya akan terwujud.

bahan bacaa :

  1. https://www.republika.co.id/berita/nyggg77/isya-binti-faqudza-perempuan-mandul-yang-dikaruniai-anak
  2. Tafsir Ayat-ayat Wanita karya Syaikh Muhammad Siddiq Hasan Khan