Warisan atau Faraidh

Ramadhan 1443 H – Hari Keduapuluh dua

“Pelajarilah faraidh dan ajarkanlah dia, karena dia merupakan separuh ilmu.

(HR Ubnu Majah dan al Quthniy)

Ketika orangtua meninggal dunia, masalah pembagian harta warisan tentu akan terjadi. Harta warisan sendiri berdasarkan definisinya adalah harta benda yang ditinggalkan orang yang telah wafat (pewaris) untuk diberikan kepada ahli warisnya. Terkait harta bendanya, bisa berupa aset bergerak seperti mobil, deposito, logam mulia, hingga uang. Atau bisa juga aset tidak bergerak, misalnya rumah, tanah, ruko, dan bangunan lainnya.

Membicarakan warisan berarti membicarakan ihwal peralihan harta dari orang yang sudah meninggal kepada orang yang masih hidup. Warisan atau dalam Bahasa arab faraidh, adalah titik padang dalam proses peralihan harta. Karena ada kecenderungan menimbulkan sengketa, maka Islam telah mengatur tata cara penyerahan harta.

Siapakah yang secara memperoleh hak waris? Yaitu orang yang memiliki hubungan dengan orang yang memberi waris. Hubungan tersebut antara lain :

Pertama, hubungan kekerabatan atau nasab atau yang sering disebut hubungan sedarah. Hubungan ini bersifat alamiah. Turun temurun karena keluarga. Seseorang yang dilahirkan oleh seorang ibu. Selanjutnya, ia juga memiliki hubungan kerabat dengan seorang laki-laki yang menikahi secara sah dengan ibu. Di Indonesia sering disebut dengan keluarga inti. Terdiri dari Seorang ayah, ibu dan anaknya. Dasar hukumnya tertera dalam surat al Nisa : 7

Kedua, hubungan perkawinan. Bila seorang laki-laki telah melangsungkan akad nikah yang sah dengan seorang perempuan, maka di antara keduanya telah terdapat hubungan kewarisan, dalam arti istri menjadi ahli waris bagi suaminya yang telah mati dan suami menjadi ahli waris bagi istrinya yang telah mati. Dasar hukumnya al Nisa : 33

Ketiga, pemerdekaan hamba, yaitu hubungan seseorang dengan hamba sahaya yang telah dimerdekakan. Hubungan disini hanya sepihak. Orang yang telah dimerdekakan, berhak menjadi ahli waris. Tetapi orang hamba tersebut, tidak berhak mewarisi orang yang telah memerdekakan.

Keempat, Hubungan sesama Islam, dalam arti umat sebagai kelompok yang berhak menerima warisan dari seorang yang sudah meninggal, tapi tidak meninggalkan ahli waris. Harta peninggalannya sering disebut Baitul maal, atau perbendaharaan umat Islam, yang digunakan untuk umat Islam.

Leave a Reply

Your email address will not be published.