Zalim (2)

Jum’at Berkah

Kata yang senada dengan z-l-m

Dalam al-Qur’an, padanan kata z-l-m begitu banyak, antara lain zalama yang tertera dalam surat al Baqarah: 54. Dalam ayat tersebut, diceriterakan tentang perilaku Nabi Musa as. Zalim diartikan sebagai perbuatan yang aniaya terhadap dirinya sendiri. Penyebabnya karena kaum Samiri menyembah kepada anak sapi. Padahal perbuatan tersebut termasuk syirik.

Menurut akal sehat, bahwa menyembah anak sapi merupakan penghinaan terhadap intelegensi manusia. Itulah sebabnya perbuatan tersebut dikatagorikan merendahkan dirinya sendiri.

Yazlimu yang tercantum dalam surat al Nisa: 40, dimaknai sebagai perilaku yang sewenang-wenang. Maksudnya, bila seseorang menghukum kepada orang lain, maka sesuai dengan keinginan pribadi, tanpa mempertimbangkan hukum yang berlaku atau kepatutan.

Sikap ini tentu bertentangan dengan sifat Allah, yaitu memberi kasih sayang. Tidak mungkin Allah berperingai serampangan kepada hamba-Nya. Tidak mungkin sang khalik tidak memberi ganjaran kepada orang yang berbuat baik. Sehingga ada perbedaan antara orang yang berbuat semaunya sendiri, dengan orang yang berkepribadian mulia.

Kata Zulima dapat ditemukan dalam surat al Nisa: 48, yang bermakna teraniaya atau diperlakukan tidak adil. Kandungan ayat tersebut memberi tuntunan agar kita tidak boleh mengucapkan atau memberi isyarat yang menyakitkan kepada orang lain.

Sebagai contoh, memberi kritik secara kasar di muka umum, dengan maksud ingin menjatuhkan orang lain. Dilihat dari etika, orang yang mengkritik telah melampaui batas-batas kesopanan. Nilai luhur yang telah ditanamkan oleh nenek moyang, terhempas seketika hanya karena menuruti nafsu pribadi. Di zaman milenial ini, hinaan, celaan, dapat berupa tulisan, yang diproduksi dan dibiakkan melalui media sosial.

Zulm dalam surat Hud: 16 memiliki arti kezaliman yang berkaitan dengan kemakmuran. Di satu sisi, ada sekelompok orang yang menikmati kekayaan yang melimpah, namun abai terhadap kaum dhuafa. Komunitas orang yang memiliki keunggulan atau kelebihan (ulul baqiyyah), tak lain adalah golongan elit. Sebagian besar dari mereka ternyata tidak sensitive terhadap persoalan masyarakat.

Zallum memiliki arti kelompok yang tidak tahu diri. Mereka ini meski sudah diberi keterangan yang demikian jelas, tetapi mereka tetap membantah. Orang ini termasuk yang tidak tahu dirinya sendiri. Sangat disayangkan. Orang seperti ini, justru lebih mengetahui orang lain (terutama keburukan) dari pada dirinya sendiri.

Referensi: Jurnal Ulumul Qur’an Nomor 4 Vol V Th 1994