Zalim

“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya aku telah mengharamkan zalim atas diri-Ku. Dan, aku jadikan perbuatan harap di antara kalian. Oleh karena itu, janganlah kalian saling berbuat zalim” Hadits Qudsi

Pengertian zalim secara umum adalah menganiaya kepada orang lain atau kepada makhluk lain. Pemahaman tersebut tidak salah. Tetapi cakupannya terlalu sempit. Zalim, sebenarnya sangat luas. Dalam al Qur’an kata zalim atau bentuk lain yang semakna disebutkan sebanyak 315 kali.

Misalnya zalama artinya berbuat aniaya ditulis sebanyak 61 kali. Zulm yang artinya tidak adil disebutkan sebanyak 20 kali. Zulumat yang bermakna kegelapan ditulis 23 kali. Azlama artinya menjadi gelap. Bukan berarti bahwa zalim atau kata yang serumpun artinya bukan dianiaya. Sebagai contoh dalam surat Thaha: 112. Dalam ayat tersebut ada dua kata yang artinya berdekatan. Pertama disebutkan zulman dan yang kedua kata hamada. Keduanya mengandung arti yang hampir sama.

Zalim adalah tabiat dan watak yang ada dalam diri manusia. Zalim merupakan bagian akhlak yang tercela, serta dapat merusak agama, melenyapkan kebaikan, bahkan dapat memutus silaturahmi. Zalim juga digunakan untuk melambangkan sifat kejam, bengis, tidak berperikemanusiaan, suka orang lain menderita dan kesengsaraan, melakukan kemungkaran, ketidakadilan dan lain-lain.

Secara definitif, zalim adalah meletakkan sesuatu yang tidak pada tempatnya. Perilakunya selalu merugikan orang lain. Padahal orang lain juga memiliki hak yang sama. Sifat zalim muncul karena ada dorongan nafsu. Keinginan manusia, terkadang melampaui batas.

Banyak peristiwa kezaliman yang diabadikan dalam al Qur’an. Raja diraja sepanjang sejarah perjalanan bangsa Mesir adalah Fir’aun. Orangnya cerdas, berwibawa, mampu membuat paradaban, dan mengaku tuhan. Mesir pada masa pemerintahannya adalah aura. Magnet bagi orang yang akan mencari kemakmuran dan kemuliaan. Semua orang ingin berbondong-bondong untuk mengecap kehidupan di Mesir. Namun Allah menghendaki berbeda. Fir’aun tenggelam di laut merah, setelah terkena hentakan tongkat dari Nabi Musa. Berakhir sudah genggaman Fir’aun di Mesir.

Kaum Tsamud dan Aad, adalah bangsa yang besar pada masanya. Masyarakatnya Makmur, sejahtera, namun mereka ingkar dengan ajaran Allah. Bangsa Tsamud dihancurkan dengan thaagiyah (suara yang sangat keras). Kaum Aad dihempaskan dengan badai angin yang dingin dan kencang, selama delapan hari tujuh malam.

Referensi

Jurnal Ulumul Qur’an Nomor 4 Vol V Th 1994

Tafsir Al Misbah karya M. Quraish Shihab